Saturday, May 20, 2017

ASAL USUL SUKU BALI








ASAL USUL SUKU BALI - Suku Bali yang merupakan Orang Bali sebagian besar bermukim di pulau Bali serta memiliki bahasa sendiri. Suku bali juga tersebar diseluruh nusantara Indonesia. Mereka mempunyai nilai kebudayaan yang sangat tinggi serta kebudayaan mereka itu banyak menarik perhatian turis-turis asing, Dan eksotis pulau Bali sudah terkenal di penjuru mancanegara.


Sejarah Suku Bali
Ada yang berpendapat bahwa suku asli Bali adalah suku Aga yang merupakan salah satu subsuku bangsa Bali yang berada di Desa Trunyan. Penduduk Bali Aga dianggap sebagai orang gunung yang bodoh. Sebab masyarakatnya berada di pegunungan yang sangat terpencil serta pedalaman dan belum sempat terjamah dengan teknologi sama sekali.

Masyarakat asli suku Bali Aga berada di pegunungan sebab penduduknya menutup diri dengan pendatang yang disebut dengan Bali Hindu, yaitu masyarakat keturunan Majapahit. Masyarakatnya juga menganggap bahwa daeraH pegunungan merupakan tempat suci sebab daerah tersebut terdapat banyak sekali puri serta kuil yang dianggap suci oleh penduduk Bali.

Disamping suku Aga, terdapat pula suku Bali Majapahit. Suku ini berasal dari para pendatang Jawa yang sebagian besar menetap di Pulau Bali khususnya yang berada di daerah dataran rendah. Masyarakat ini berasal dari Jawa oleh kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu. Mata pencaharian masyarakat ini adalah bercocok tanam. Dan juga menjadi salah satu pengaruh dari sejarah suku Bali.

Pendapat lain menyatakan jika, asal-usul suku Bali terbagi ke dalam tiga periode atau gelombang migrasi yaitu:
Migrasi pertama terjadi akibat dari pernyebaran penduduk yang berada di Nusantara selama zaman prasejarah
Migrasi kedua terjadi dengan perlahan selama masa perkembangan agama Hindu di Nusantara
Migrasi ketiga adalah gelombang terakhir dari Jawa, kala Majapahit runtuh di abad ke-15 seiring dengan
Islamisasi masyarakat Jawa sejumlah penduduk Majapahit memilih dengan melestarikan kebudayaannya di Bali, yang terbentuk sinkretisme antara kebudayaan Jawa klasik dengan tradisi asli Bali.

Baca Juga : ASAL USUL SUKU ACEH


Kebudayaan Dan Kesenian Suku Bali
Kebudayaan dan kesenian di Bali menjadikan bali memiliki daya tarik yang kuat untuk para wisatawan yang datang ke daerah tersebut. 

Berikut kebudayaan dan kesenian yang ada di Bali.
1. Pakaian adat Bali
Bali memiliki banyak macam atau ragam dari pakaian adatnya. Seperti perempuan yang masih remaja memakai sanggul gonjer, sedangkan perempuan atau wanita dewasa memakai sanggul tagel, dengan memakai sesentang atau kemben songket, Kain wastra, Sabuk prada (stagen) yang membelit pinggul serta dada, Selendang songket bahu ke bawah, Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam, Beragam ornamen perhiasan, Dengan memakai kebaya, kain penutup dada, serta alas kaki sebagai pelengkap. Sedangkan pria memakai ikat kepala atau udeg lalu memakai selendang pengikat atau umpal, kain kampuh, kain wastra, keris, sabuk, kemeja atau jas, serta ornament yang dipakai untuk menghiasi penampilan sang pria

2. Rumah adat Bali
Rumah adat Bali harus berdasarkan dengan aturan Asta Kosala Kosali ajaran pada kitab suci Weda yang mengatur tentang tata letak sebuah bangunan yang sama dengan ilmu Feng Shui di ajaran Budaya China. Rumah adat Bali harus terpenuhi aspek pawongan (manusia / penghuni rumah), pelemahan (lokasi / lingkungan) serta parahyangan.

Pada dasarnya rumah Bali di penuhi berbagai pernak-pernik hiasan, ukiran dengan warna alami dan patung-patung symbol ritual. Bangunan Rumah Adat Bali terpisah-pisah dengan banyak bangunan-bangunan kecil dalam satu area yang dipersatukan oleh pagar yang mengelilinginya. Seiring perkembangan zaman mulai terdapat perubahan untuk bangunan dimana bangunannya tidak lagi terpisah-pisah.


3. Tari Bali
Berikut beberapa jenis tarian yang ada di bali :
Tari Pendet, ini ditarikan sebagai simbul tari selamat datang untuk menyambut kedatangan para tamu serta undangan dengan menaburkan bunga, serta ekspresi penarinya penuh dengan senyuman manis. Pada awalnya tarian ini dipakai untuk acara ibadah di pura sebagai bentuk penyambutan dewa yang turun ke bumi.

Tarian panji semirang,yang di mainkan para perempuan. Tari Panji Semirang merupakan tarian yang menggambarkan seorang putri raja bernama Galuh Candrakirana, dengan menyamar jadi seorang laki-laki setelah kehilangan suaminya. Dalam peejalananya dia mengganti namanya dengan sebutan Raden Panji.

Tari Condong, adalah tarian yang cukup susah untuk dimainkan dan tarian ini mempunyai waktu yang sangat panjang. Tarian ini adalah tarian klasik Bali yang mempunyai gerakan yang kompleks dengan menggambarkan seorang abdi Raja

Tari Kecak,merupakan jenis tarian yang sangat terkenal dari Bali. Tarian ini dimainkan oleh puluhan laki-laki dengan duduk melingkar. Tarian ini menggambarkan kisah seorang Ramayana di saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Nada tari Kecak sendiri diambil dari ritual tarian sanghyang yakni tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dengan menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.


4. Alat Musik Suku Bali
Berikut beberapa alat musik tradisional yang khas peninggalan leluhur secara turun temurun :

Gamelan Bali, Banyak daerah lain di Indonesia yang memiliki alat musik gamelan, Begitu juga Bali memiliki alat musik gamelan. Akan tetapi gamelan Bali memiliki perbedaan dengan gamelan daerah lain yang paling menonjol ialah ritme yang dimainkan pada gamelan Bali berjenis ritme yang cepat.

Rindik, merupakan alat musik khas Bali yang terbuat dari bambu bernada selendro. Alat musik ini dimainkan dengan 2 sampai 4 orang, 2 orang menabuh rindik sisanya meniup seruling. Alat musik ini biasanya untuk pementasan tarian jogged bumbung serta sebagai acara pernikahan.


5. Tradisi Kebudayaan Suku Bali
Masyarakat Bali hidup dengan memeluk agama Hindu dan tidak terpengaruh oleh masyarakat lain yang tinggal di Bali yang tidak memeluk agama Hindu. Berikut acar adat upacara yang biasa di lakukan oleh orang bali diantarnya :

Pernikahan, Dalam acara pernikahan ada beberapa upacara adat yang harus dilalui diantaranya :
Upacara ngekeb, Yang bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri serta ibu rumah tangga untuk memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasanganya untuk diberikan anugerah berupa keturunan yang baik

Mungkah Lawang (Buka Pintu), Merupakan adat untuk mengetuk pintu pengantin wanita sebanyak tiga kali, sebagai tanda bahwa pengantin pria telah datang untuk menjemput pengantin wanita serta memohon supaya segera dibukakan pintu

Madengen dengan, Upacara untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. Upacara ini dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian

Mewidhi Widana, Upacara ini adalah acara penyempurnaan pernikahan adat bali dalam meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan saat acara sebelumnya. Selanjutnya keduanya menuju merajan adalah tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa.

Mejauman Ngabe Tipat Bantal, Setelah beberapa hari menikah, upacara ini baru dilaksanakan. Untuk memohon pamit kepada kedua orang tua dan sanak keluarga pengantin wanita, terutama pada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian hidup dalam keluarga besar suaminya

Upacara Potong gigi, Acara ini wajib dilalui oleh para laki-laki serta wanita yang sudah beranjak dewasa dengan di tandai datangnya menstruasi bagi wanita serta membesarnya suara bagi laki-laki. Potong gigi bukan berarti giginya yang dipotong, melainkan hanya merapikan atau mengikir enam gigi rahang atas, dengan empat gigi seri serta dua taring kiri dan kanan yang dipercaya dapat menghilangkan enam sifat buruk yang melekat pada diri seseorang, diantranya kama (hawa nafsu), loba (tamak), krodha (amarah), mada (mabuk), moha (bingung), dan matsarya (iri hati atau dengki).

Upacara Kematian, Penduduk Bali selalu mengadakan upacara kematian pada saat ada seseorang atau kerabat yang meninggal dunia. Upacara  ini dikenal sebagai upacara ngaben. Yaitu upacara pembakaran bagi orang yang sudah meninggal. Pada dasarnya upacara ini untuk  mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda menyatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep tadi dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa selaku Dewa yang dipercaya penduduk atau umat hindu khususnya masyarakat hindu Bali


Sistem Kepercayaan Suku Bali
Mayoritas masyarakat Bali menganut kepercayaan Hindu Siwa-Buddha, salah satu denominasi agama Hindu. Ajaran ini dibawa oleh pendeta dari India yang berkelana di Nusantara serta kemudian memperkenalkan sastra Hindu-Buddha kepada suku Bali berabad-abad tahun silam. Penduduk menerimanya serta mengkombinasikan dengan mitologi pra-Hindu yang dipercyai mereka. Suku Bali yang sudah ada sebelum gelombang migrasi ketiga, yang dikenal dengan Bali Aga, sebagian besar menganut agama yang berbeda dari suku Bali. Masyarakatnya mempertahankan tradisi animisme.

Suku Bali Hindu percaya adanya satu Tuhan dengan konsep Trimurti yang terdiri atas tiga wujud, diantaranya :
Brahmana : menciptakan, Wisnu : yang memelihara, Siwa : yang merusak.

Selain itu ada juga yang dianggap penting diantarnya :
Atman : roh yang abadi, Karmapala : buah dari setiap perbuatan, Purnabawa : kelahiran kembali jiwa.

Tempat ibadah agama Hindu disebut pura. Yang memiliki sifat berbeda, diantarnya :
Pura Besakih: sifatnya umum untuk semua golongan, Pura Desa (kayangan tiga): khusus untuk kelompok sosial setempat, Sanggah: khusus untuk leluhur.


Sistem Kekerabatan Suku Bali
Perkawinan suku bali dahulu ditentukan oleh kasta. Dimana wanita dari kasta tinggi tidak boleh kawin dengan laki-laki kasta rendah. Tetapi seiring perkembangan zaman, sisitem ini tidak berlaku lagi. Perkawinan yang dianggap pantang ialah perkawinan saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri (mak dengan ngad). Perkawinan itu akan mengakibatkan bencana (panes).

Ada dua cara untuk mendapatkan istri berdasarkan adat diantaranya :
memadik, ngindih: dengan cara meminang keluarga gadis dan mrangkat, ngrorod: dengan cara melarikan seorang gadis.


Bahasa Suku Bali
Dalam kehidupan sehari-ahri suku Bali mengggunakan bahasa Bali serta bahasa Indonesia, sebagian besar penduduk Bali ialah bilingual dan bahkan trilingual. Bahasa Inggris merupakan bahasa ketiga serta bahasa asing utama untuk masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. 

Bali mempunyai bahasa asli di antarnya :
Bahasa Aga adalah bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, Dan bahasa Bali Mojopahit ialah bahasa yang pengucapannya lebih halus


Makanan Khas Bali
Ciri khas makanan orang Bali yang sangat paling terkenal adalah Ayam Betutu. Merupakan lauk yang terbuat dari ayam atau bebek yang utuh dengan berisi bumbu, dan dipanggang dalam api sekam. Betutu sendiri sudah terkenal di seluruh kabupaten di Bali. 

Ayam betutu juga menjadi makanan khas masyarakat Gilimanuk. Betutu digunakan sebagai sajian saat upacara keagamaan serta upacara adat dan sebagai hidangan sebagian masyarakat juga menjualnya. Peminatnya tidak hanya masyarakat Bali namun tamu mancanegara yang datang ke Bali, khususnya pada tempat-tempat tertentu seperti di hotel serta rumah makan atau restoran.


Kerajinan Khas Bali
Bali mempunyai kerajinan tangan yang dibuat oleh masyarakat, seperti kerajinan tangan membuat tas anyaman, ukiran bali berupa pajangan ataupun untuk pintu, kerajinan tangan yang terbuat dari perak maupun kaca, topeng kayu asal Bali, pernak pernik accessories Bali serta masih banyak lagi.


Friday, May 19, 2017

ASAL USUL SUKU ACEH








ASAL USUL SUKU ACEH - Suku Aceh merupakan suku bangsa yang bertempat di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, suatu provinsi berada paling ujung sebelah barat Indonesia serta paling ujung utara pulau Sumatera. Bahasa sehari-hari yang digunakan untuk suku Aceh ialah bahasa Aceh. Bahasa Aceh masih bersaudara dekat dengan bahasa Mon Khmer (Champa) adalah bangsa yang berada di kawasan Indochina.


Asal Usul Suku Aceh

Nenek moyang suku Aceh diperkirakan berasal dari berbagai macam keturunan suku-bangsa, yaitu Cham, Arab, Melayu dari Semenanjung Malaysia, serta India. Dulu kala sebelum suku Aceh memeluk agama Islam, budaya Hindu menjadi kehidupan penduduk Aceh, terbukti ada tradisi budaya Aceh mengandung unsur Hindu serta India. Disamping itu banyak kosakata yang terdapat dalam bahasa Aceh masih menggunakan bahasa dasar India dan Sanskerta. Adat istiadat asli suku aceh pun terdapat perubahan sejak masyarakatnya memeluk agama Islam serta disesuaikan dalam budaya agama Islam.


Suku Aceh merupakan suku pertama di Indonesia yang memeluk  dan beragama Islam. Masyarkatnya mendirikan sebuah Kerajaan Islam pertama di Indonesia. Di waktu itu tanah Aceh banyak disinggahi oleh suku-bangsa asing. Pedagang India yang berasal dari Gujarat serta Tamil datang melakukan hubungan bilateral perdagangan, Seterusnya banyak yang menetap serta melakukan kawin-campur dengan penduduk asli Aceh, ini terbukti dengan orang Aceh yang berpenampilan wajah seperti orang India serta Tamil, berkulit gelap serta rambut keriting. Dan jenis makanan (kari) itu merupakan warisan kebudayaan India-Hindu (nama desa yang berasal dari bahasa Hindi, cmisal: Indra Puri). Selanjutnya pedagang dari negeri Yaman yang berasal dari provinsi Hadramaut banyak juga melakukan hubungan dagang dengan wilayah Aceh, masyarakatnya kebanyakan menetap dan melakukan kawin-campur dengan masyarakat asli Aceh. Terlihat  dari keturunan-keturunan orang Yaman dengan marga al-Aydrus, al-Habsyi, al-Attas, al-Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier dan lain lain.




Keturunan India tersebar di seluruh wilayah Aceh. Dengan letak geografisnya yang berdekatan berseberangan dari wilayah India, sehingga keturunan India mendomonasi di wilayah Aceh. Pedagang Tiongkok juga pernah mempunyai hubungan sangat erat dengan bangsa Aceh, dibuktikan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, yang pernah singgah serta menghadiahi masyarakat Aceh dengan sebuah lonceng besar, dan sekarang dikenal dengan sebutan Lonceng Cakra Donya, yang tersimpan di Banda Aceh.


Ada juga pendatang dari Persia (Iran/Afghan) serta Turki, dan pernah datang atas undangan Kerajaan Aceh untuk dijadikan ulama, pedagang senjata, pelatih prajurit serta serdadu perang kerajaan Aceh, sekarang ini keturunan keturunan mereka kebanyakan tersebar di seluruh wilayah Aceh Besar. Hingga saat ini bangsa Aceh sangat menyenangi nama-nama warisan Persia serta Turki. Bahkan sampai ada sebutan Banda, di dalam nama kota Banda Aceh pun merupakan warisan bangsa Persia (Bandar arti: pelabuhan).


Selain itu juga ada pula keturunan bangsa Portugis, di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Mereka merupakan keturunan dari pelaut-pelaut Portugis yang di pimpinan oleh nakhoda Kapten Pinto, yang akan berlayar menuju Malaka (Malaysia), serta sempat singgah dan berdagang di wilayah Lam No, juga sebagian besar mereka tetap tinggal serta menetap di Lam No sekitar tahun 1492-1511. Sekarang ini terlihat dari keturunan mereka yang masih mempunyai profil wajah Eropa yang kental.


Dan sebab itu banyak penduduk Aceh yang mengartikan ACEH merupakan singkatan dari kata A=arab, C=china, E=eropa, dan H=hindustan


Di Aceh terdapat banyak seni budaya, misalnya tari-tarian, antaralain: Tari Rabbani Wahed, Tari Ranup Lampuan, Tari Seudati, Tari Rateb Meuseukat, dan Tari Likok Pulo



Penduduk Aceh mayoritas bekerja s\di pertanian pada tanaman padi, jagung, ubi serta tanaman keras yaitu kelapa, kopi serta cengkeh. Di beberapa wilayah terpencil, ditemukan juga tanaman ganja, yang menurut cerita, sesungguhnya tanaman ini tumbuh subur secara liar di daerah pegunungan serta kaki gunung. Tanaman ini ditanam secara sembunyi-sembunyi, sebab tanaman dilarang oleh pemerintah. Di samping itu masyarakat suku Aceh, juga banyak yang menjadi nelayan, untuk yang tinggal di daerah pesisir pantai, serta yang lain menjadi pedagang, dan berbagai bidang profesi lainnya.

ASAL USUL SUKU HALOBAN ACEH









ASAL USUL SUKU HALOBAN ACEH - Suku Haloban mempunyai bahasa asli Haloban, dan bersaudara dengan bahasa Devayan yang berada di pulau Simalur (Simeulue), serta diperngaruhi juga dengan bahasa Nias yang berada di kepulauan Nias.  Sekarang bahasa Haloban hampir punah dengan bahasa para pendatang yang makin banyak memenuhi wilayah pulau ini. Bahasa Haloban hanya digunakan sehari-hari di rumah-rumah atau di kalangan masyarakat itu sendiri. Sedangkan keturunan Haloban banyak yang lebih suka berbicara dalam bahasa Aneuk Jamee atau bahasa Aceh yang sudah populer.


Asal usul suku Haloban ini diperkirakan bermigrasi bersama-sama dengan nenek moyang suku Nias, Mentawai dan Enggano, beserta dengan suku Devayan, Sigulai serta Lekon. Pada waktu sekitar 7000 tahun yang lalu bersinggah serta tersebar di pulau-pulau sebelah barat pulau Sumatra. Dapat didapati dari struktur fisik dan bahasa mereka yang mempunyai banyak kemiripan. Kebudayaan suku Haloban saat ini sudah terpengaruh oleh budaya Islam dan menggeser budaya asli dari suku Haloban.






Suku Haloban sebagian besar telah memeluk agama Islam yang pada zaman itu begitu kuat mempengaruhi di wilayah ini. Kebudayaan, tradisi adat istiadat serta seni-budaya suku Haloban sangat dipengaruhi oleh budaya dari agama Islam, yang disebarkan oleh masyarakat pendatang dari Aceh serta Minang.
Selain agama Islam yang sudah mayoritas di pulau Banyak itu, ada juga agama Kristen yang dianut oleh suku Nias yang berada di wilayah Sialit. Meskipun di daerah ini ada dua kelompok mayoritas agama, akan tetapi kerukunan beragama mereka sangat tinggi terbukti masih terjaganya serta hidup berdamoinagn secara harmonis di wilayah ini.


Mata pencaharian suku Haloban
Untuk keseharianya suku Haloban ini banyak yang menjadi nelayan serta petani. Mereka juga menanam berbagai macam tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Disamping itu juga memelihara beberapa hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing serta sapi.

ASAL USUL SUKU SIGULAI ACEH








ASAL USUL SIGULAI ACEH - Suku Sigulai, sering disebut dengan suku Salang, yaitu suku yang bermukim di pulau Simalur bagian utara. Suku Sigulai terpusat di wilayah kecamatan Simalur Barat serta kecamatan Alafan. Masyarakat ini mendiami sebagian desa di kecamatan Salang, kecamatan Teluk Dalam serta kecamatan Simalur Tengah.


Suku Sigulai terdaftar sebagai suku asli yang berada kepulauan Simalur, berdampingan dengan suku Devayan, Lekon dan Haloban. Belum ditemukanya sejarah asal usul suku Sigulai ini secara tertulis, sehingga belum diketahui pasti asal usul suku Sigulai ini. Akan tetapi ada beberapa pendapat para penulis di beberapa situs di web, menyatakan kalau suku Sigulai itu dulu kala berasal dari wilayah yang sama dengan suku Devayan, Lekon, Haloban dan Nias serta Mentawai. Sebab secara fisik suku Sigulai itumasuk dalam ras mongoloid yang dulu kala bermigrasi ke wilayah ini bersama-sama dengan suku Nias, Mentawai, Devayan, Lekon serta Haloban, mereka tersebar di beberapa wilayah di pulau serta kepulauan yang berada di sebelah barat pulau Sumatra. Salah satunya ialah suku Sigulai yang masih bermukim di wilayah ini sampai sekarang.




Penduduk suku Sigulai mayoritas beragamakan Islam yang sangat kental mempengaruhi wilayah ini, dan membuat beberapa seni-budaya suku Sigulai terasa nilai-nilai Islami nya.


Bahasa yang digukanan suku Sigulai, masih bersaudara dengan bahasa Devayan, begitu dengan bahasa Lekon serta Nias. Meskipun mereka berbeda akan tetapi masih mempunyai kemiripan dalam perbendaharaan kata juga dialeknya. Bahasa Suku Sigulai sendiri masih berada di tengah-tengah dominasi bahasa Aneuk Jamee yang merupakan bahasa pengantar di wilayah itu. Selain bahasa Aneuk Jamee, bahasa Aceh juga ikut mempengaruhi kehidupan berbahasa pada suku-suku asli di pulau Simalur ini. Yang membuat kalangan generasi muda suku Sigulai cenderung lebih suka berbicara dalam bahasa Aneuk Jamee untuk pergaulan sehari harinya. Bahasa Sigulai sendiri, sering diucapkan di wilayah perkampungan, di rumah-rumah serta kalangan suku Sigulai saja.

Thursday, May 18, 2017

ASAL USUL SUKU KLUET ACEH








ASAL USUL SUKU KLUET ACEH -  Kata Kluet merupakan Bahasa Aceh yang mempunyai arti "liar". Terdapat juga yang mengatakan bahwa kata itu berasal dari kata kalut, yang mempunyai arti "bertapa" atau mengasingkan diri ke hutan. Bagi cerita pada waktu zaman kejayaan Kesultanan Aceh kala penduduk ini merupakan kelompok yang terisolasi. Di saat sekarang mereka tinggal di Aceh Selatan, terpusat di Kluet Utara dan Selatan.


Sejarah-suku-kluet
Menurut kesatuan teritorial genealogisnya masyarakat Kluet terbagi menjadi empat kemukiman, diantaranya kemukiman Menggamat dan Sejahtera di Kluet Utara, lalu di kemukiman Makmur dan perdamaian di Kluet Selatan. Setiap kemukiman dipimpin oleh seorang Mukim (seperti di Aceh). Penduduk ini sebagian besar memeluk agama Islam.


Bahasa Suku Kluet
Ada tiga dialek bahasa di Suku Kluet, diantaranya dialek Paya Dapur, Menggamat serta dialek Krueng Kluet. Bahasa Kluet juga terpengaruh dengan bahasa Aceh, Karo, Alas, Gayo serta Minangkabau.




Mata Pencaharian Suku Kluet
Mata pencaharian penduduk ini yaitu bercocok tanam padi di sawah serta di ladang. Sama juga seperti masyarakat lain di Daerah Istimewah Aceh, masayarakat Kluet sendiri juga berkebun kopi, cengkeh, kelapa, serta karet. Mereka menggunakan alat  pertanian dan teknologi yang masih sederhana sekali.


Kemasyarakatan Suku Kluet
Kampung orang Kluet bernama gampong terdapat sejumlah rumah serta bangunan lain, misalnya berangdang (lumbung), meursah (balai umum), deyah (surau untuk wanita), rangkang (rumah bujang), dan masjid. Masyarakat Kluet menyebut keluarga intinya dengan sebutan jabo atau jabu, serta mengembangkan sistem klen yang disebut marga.


Dalam kehidupan ekonomi rumah tangga, jabo berkelompok dengan keluarga luasnya (klen kecil) untuk bermacam kegiatan sosial-ekonomi, misalnya mengerjakan sawah atau kebun. Falsafah hidup hubungan kekerabatannya cenderung patrilineal. Pilihan pasanganya harus bersifat eksogami marga. Tradisi menetap sehabis kawin yaitu uksorilokal, yang berarti seorang suami menetap di rumah pihak wanita. Seorang individu dalam hubungannya dengan pihak ayahnya disebut perwalian, serta dengan pihak ibu disebut pamamoan. Kedua hubungan kekerabatan itu dianggap sangat berpengaruh dalam kehidupan individu sejak lahir sampai mati.

ASAL USUSL SUKU TAMIANG ACEH








ASAL USUL SUKU TAMIANG ACEH -  Suku Tamiang berada di enam kecamatan Kabupaten Aceh Timur, antara lain Kec Bendahara, Kec Kejeruan Muda, Kec Seruway, Kec Karang Baru, Kec Tamiang Hulu serta Kec Kuala Simpang. Disaat pendudukan Belanda wilayah ini masuk dalam Kewedanaan Tamiang. 


Belum ada kutipan yang pasti tentang asal usul suku bangsa ini. Akan tetapi ada yang beranggapan orang Tamiang itu berasal dari penduduk Kerajaan Melayu Raya yang bermigrasi sebab diserang Sriwijaya. Pada wilayah ini mereka membuat beberapa kerajaan, seperti Bendahara, Sungai Iyu, Sutan Muda Seruway, Karang Baru serta Keujeren Muda. Tamiang sendiri berasal dari bahasa Aceh, hitam mieng, artinya "pipi hitam". Nama tersebut diberikah oleh Sultan Muhammad Thahir Bahiansyah (1326-1350) kepada Raja Muda Setia (1330-1352), adalah raja Tamiang pertama yang tunduk kepada Aceh. Dikisahkan raja Tamiang ini mempunyai tahi lalat besar di pipinya. Pada Kitab Negara Kertagama nama kerajaan itu disebut Tumihang.


Mata Pencaharian Suku Tamiang
Mata pencaharian utama penduduk ini yaitu bertani padi di sawah, ladang, dan tegalan. Keseharian lain juga ada sebagai buruh atau karyawan di perkebunan penambangan minyak, perusahaan kayu, nelayan, tukang kayu, pegawai negeri serta banyak lagi yang lainya. Dalam bertani masih menggunakan peralatan yang sederhana seperti cangkul dan bajak yang ditarik kerbau atau sapi. Pertanian mereka umumnya adalah tadah hujan. Mereka juga menanam tanaman keras, yaitu kopi, karet, cengkeh, kelapa dan buah-buahan.




Kekerabatan Dan Kekeluargaan Suku Tamiang
Kelompok kekerabatan yang terkecil dalam kehidupan Tamiang adalah keluarga inti yang memiliki rumah tangga sendiri, Tetapi masih berada di sekitar pemukiman keluarga asalnya. Masih mengakui bentuk keluarga luas terbatas yaitu kaum biak. Dalam keluarga luas terbatas ini terdapat dua paroh, antara lain belah ayah dan belah ibu. Untuk kehidupan sosial dalam sehari-hari mereka mempercayai prinsip kerabat bilateral. Tetapi untuk masalah warisan serta garis keturunan mereka menggunakan sistem patrilineal. Anak laki-laki tertua sangat berperan dalam keluarga. Untuk kekerabatan mereka memiliki istilah panggilan menurut urutan kelahiran, anak pertama disebut ulung, anak kedua disebut ngah, anak ketiga disebut alang, anak keempat disebut andak, anak kelima disebut uteh serta anak paling bungsu disebut uncu.


Hubungan kekerabatan dalam masyarakat mempunyai motto 'Utang sama ditanggung, malu sama ditudung'. Jadi baik pihak laki-laki maupun pihak perempuan harus bersama menanggulangi beban kekerabatan. Sehingga masyarakat ini seakan-akan ada suatu perbedaan sistem kekerabatan. Yaitu Kekerabatan dengan mengandalkan kerja sama menurut garis keturunan ayah ke atas disebut kelompok wali adat atau suku sakat. Namun mereka juga mengandalkan kekerabatan menurut garis keturunan ibu ke atas. Kelompok ini disebut wali kurung atau kaum biak, sifatnya matrilokal. Di samping itu mereka juga melembagakan penghormatan kepada leluhur yang disebut ondatu, artinya dengan mengaitkan silsilah diri dalam kedatuan tertentu, contohnya dengan Datu Empat Suku, Datu Delapan Suku, Dua Belas Pihak, dan Tiga Puluh Kerabat.
Kehidupan sosial masyarakat Tamiang tidak tajam, meskipun ada kelompok tertentu yang dianggap bangsawan, adalah golongan ughang bangsawan, yang diberi gelar-gelar yang mereka pakai. Terdapat juga golongan orang terpandang karena akal budi dan jasa-jasanya, yang disebut ughang patut. Dan orang kebanyakkan disebut ughang bepake. Terdapat juga lapisan lain dari dukungan pendidikan tinggi serta harta kekayaan yang menaikkan martabatnya.


Bahasa Suku Tamiang
Bahasa Tamiang masuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia atau Austronesia. Dialeknya ditandai dengan pengucapan huruf r menjadi gh, contohnya kata "orang" dibaca oghang. Dan sementara huruf t dibaca dengan c, contohnya kata "tiada" dibaca dengan ciade.


Agama Dan Kepercayaan Suku Tamiang
Penduduk ini memeluk agama Islam, dan mereka juga masih mengadakan upacara-upacara tradisional yang berasal dari waktu sebelum Islam, misalnya kenduri blang, turun bibit, tulak bala serta lainya.

Wednesday, May 17, 2017

ASAL USUL SUKU SINGKIL ACEH







ASAL USUL SUKU SINGKIL ACEH - Suku Batak Singkil, merupakan komunitas masyarakat yang bermukim di kabupaten Aceh Singkil terutama di kota Subussalam dan di kecamatan Singkil, Simpang Kiri, Simpang Kanan dan pulau Banyak, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam


Asal muasal "singkil" sendiri berasal dari kata "sekel" yang mempunyai "mau". Penduduk suku Singkil hidup berdampingan dengan suku Gayo dan suku Alas. Secara fisik orang Singkil mirip dan berkerabat dengan penduduk Gayo dan oarang Alas, Tradisi dan budaya juga berbeda dengan masyarakat suku Aceh yang menjadi mayoritas di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.


Merekapun mempunyai bahasa keseharian sendiri, yang bernama bahasa Singkil. Bahasa Singkil masuk kelompok keluarga bahasa Batak. Bahasanya dikelompokkan dalam rumpun bahasa Batak Utara, yang terdiri dari beberapa bahasa yaitu Karo, Pakpak, Dairi, Gayo, Singkil, Alas dan Kluet. kosakatanya sendiri, bahasa Singkil berkerabat dengan bahasa Pakpak di Sumatra Utara. Oleh sebab itu bagi penduduk suku Pakpak sering beranggapan bahwa bahasa Singkil adalah salah satu dialek dari bahasa Pakpak. Suku Singkil untuk penduduk Pakpak sering dianggap sama seperti suku Boang yang merupakan salah satu puak suku Pakpak. Adat istiadat dan kebudayaan suku Singkil berbeda dengan suku Pakpak. Dan menurut orang Singkil, bahwa orang Boang merupakan etnis di luar Singkil tetapi orang Pakpak, Pastinya berbeda dengan orang Singkil. Penduduk Singkil sendiri menyebut orang Boang sebagai suku Kampung di kabupaten Aceh Singkil.



Untuk bermasyarakat suku Singkil banyak mengalami percampuran dengan etnis-etnis tetangganya, seperti Gayo dan Alas, maupun etnis pendatang, yaitu Mandailing, Nias, Aceh, Melayu dan Minang. Tetapi kebanyakan mereka yang hidup menetap di wilayah adat suku Singkil sudah menyatu dengan budaya Singkil.


Dalam masyarakat yang patrilieal, ada tradisi marga, dan diteruskan pada generasi penerusnya melalui pihak laki-laki. Tradisi marga pada sebagian penduduk suku Singkil, mungkin tidak se"penting" dengan tradisi marga yang dimiliki etnik-etnik Batak lainnya. Akan tetapi sebagian dari penduduk suku Singkil masih meletakan identitas marga di belakang namanya, supaya dapat membedakan mereka dengan etnik lain.



Rumah adat Singkil

Suku Singki berada di dataran tinggi provinsi Nanggroe Aceh, yang termasuk salah satu dari sukubangsa Proto Malayan. Di awal kehadiran komunitas ini, mereka sangat mengisolasi diri dari dunia luar dan bermukim di dataran tinggi Aceh. Akan tetapi dengan masuknya budaya Melayu dan Aceh yang membawa budaya serta ajaran Islam, dengan perlahan budaya asli suku Singkil menyerap budaya Melayu dan Aceh untuk memeluk agama Islam.



Seni dan Budaya
Berikut Seni dan budaya suku Singkil Tari Ala, Kesenian Dampeng, Tari Barat, Tari Sri Ndayang,Tari Piring, Tari Biahat (Tari Harimau), Tari Payung, Tari Lelambe



Hukum Denda Adat

Terdapat tiga tingkatan yang disesuaikan dengan kesepakatan dan perkembangan zaman, diantaranya 
1.Denda 105, jika seorang raja melakukan suatu kesalahan, maka hal ini hanya ditujukan kepada seorang raja saja.
2.Denda 100, Jika seorang pengulu/ kepala desa melakukan suatu kesalahan, maka hal ini hanya ditujukan kepada seorang pengulu saja.
3.Denda 80, Jika seseorang warga melakukan kesalahan, maka hal ini hanya ditujukan kepada seseorang warga tersebut saja.



Perkawinan

Di dalam adat istiadat perkawinan suku Singkil, harus dipenuhi semua oleh pihak laki-laki.
Beras 100 (sepuluh kaleng), Kambing 1 ekor, Uang hangus (jumlah tidak tertentu), terdapat juga disebut dengan Khukun damae artinya kebutuhan yang dibutuhkan dengan musyawarah.
Obon (nasi kendang), yang dibawa oleh pengantin laki-laki (yang mengiringi) atau disebut dengan mengakhak dan jumlah obon 16 talam.



Makanan tradisional

Makanan yang sangat terkenal yaitu Nditak, Pelita Talam, Ndabalakh, Buah Belaka, Nakan Nggeskhsing (nasi kuning), Seme Malum, Cemanis (puluh bekuah), Manuk Labakh, Cenecah



Keterampilan Tradisional, yang harus di pakai oleh mempelai laki-laki, masing-masing sebanyak 16 buah, Supit belopepinang, Ndulang, Pahar

Untuk kehidupan sehari-hari pada umumnya dalam bidang pertanian, buruh perkebunan kelapa sawit, membuat balok-balok kayu ke kapal yang diekspor ke luar negeri atau Jakarta.