Wednesday, May 31, 2017

ASAL USUL SUKU DOU MBOJO NTB









ASAL USUL SUKU DOU MBOJO - Dou Mbojo merupakan penduduk para pendatang yang berasal dari daerah-daerah seperti Makassar, Bugis, dengan bermukim di daerah pesisir Bima. Sebagian besar Mereka berbaur dengan masyarakat asli serta bahkan menikahi wanita penduduk asli.


Mereka datang sekitar abad XIV, datang dengan berdagang maupun untuk menyiarkan agama sebagai mubaliqh. Mata pencaharian mereka adalah bertani, berdagang, nelayan/pelaut serta sebagian lagi sebagai pejabat dan pegawai pemerintah. Karena pada awalanya mereka adalah pendatang, maka pada generasi berikutnya banyak juga yang merantau ke luar daerah untuk berbagai keperluan dan profesi seperti sebagai pegawai daerah, sekolah/kuliah, menjadi polisi/tentara, pedagang.


Yang dikenal dengan Sifat ulet, mudah menyesuaikan diri dengan orang lain dan bahkan kasar. Sampai sekarang di beberapa daerah di Bima mewarisi sifat-sifat kasar di antaranya beberapa daerah (desa) di Kecamatan Sape, Wera dan Belo. Ada juga pendatang dari Arab dan Melayu, Masyarakat Melayu berasal dari Minangkabau dan daerah lain di Sumatera, baik sebagai pedagang maupun sebagai mubaliqh. Jumlah mereka adalah minoritas, yang pada awalnya menempati daerah Bima pesisir Teluk Bima, Kampung Melayu dan Benteng.


Baca Juga : ASAL USUL SUKU KORE


Karena perkembangan zaman, sekarang mereka telah membaur ke wilayah-wilayah pedalaman bersama masyarakat Bima lainnya. Orang Arab pun datang ke Bima sebagai pedagang serta mubaliqh. Awal kedatangan orang Arab sangat tertekan karena harus berhadapan dengan penduduk Bima yang sudah cukup variatif. Mereka menganggap pendatang dari Arab, sebagai turunan Nabi. Akan tetapi, sekarang mereka telah diterima secara umum dan wajar, Bahkan seiring dengan kuatnya pengaruh Islam melalui Hadirnya Kesultanan Bima, termasuk orang Melayu, sering dianggap istimewa karena biasanya pada masa Kesultanan Bima mereka diangkat sebagai Da’I dan pejabat hadat di seluruh pelosok tanah Bima.


Masyarakat Cina juga tak ketinggalan dalam berperan di Bima, yang umumnya berprofesi sebagai pedagang. Dari segi jumlah, orang Cina memang tergolong kecil tetapi karena mereka sangat gigih dan ulet, peran mereka dalam perekonomian Bima sangat signifikan.

ASAL USUL SUKU KORE NTB







ASAL USUL SUKU KORE NTB - Masyarakat Kore merupakan suatu kelompok sosial yang berasal dari penduduk dalam Kabupaten Bima, di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).


Masyarakat sebagian bermukim dalam wilayah Kecamatan Sanggar. Belum ada data yang ditemukan tentang jumlah penduduk ini Kecamatan Sanggar sekitar tahun 1985 dengan jumlah penduduk sekitar 8.475 jiwa atau di antara masyarakat Kabupaten Bima dengan jumlah penduduk sekitar 404.383 jiwa pada tahun 1986.


Masyarakat Kore mempunyai bahasa sendiri adalah bahasa Kore. Di wilayah Kabupaten Bima mereka hidup berdampingan dengan orang-orang Mbojo atau yang biasa juga disebut orang Bima, dan warga dan masyarakat dengan latar belakang budaya lainnya yang ada di kabupaten Bima.


Wilayahnya berada di bagian barat serta selatan berbatasan dengan wilayah asal masyarakat Donggo serta masyarakat Dompu.
Mereka hidup berdampingan dengan adat dan tradisi yang di percayai masing masing untuk kehidupan bermasyarakat


Pada zaman dulu masyarakat di wilayah kecamatan ini juga pernah mempunyai sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sanggar,kejayaanya sampai dengan abad ke-16. Dalam periode 1618 - 1674 kerajaan Sanggar serta beberapa kerajaan lain di Nusa Tenggara Barat berada dalam kekuasaan Kerajaan Gowa dari Sulawesi.


Di masa pemerintahan Kolonial Belanda menjadi bagian dari Onder Afdeeling Bima. Agama Islam tela masuk ke masyarakat di daerah Sanggar ini sekitar abad ke-16.




Dalam Upaya mengungkap peradaban masa lalu di Semenanjung Sanggar memang tak gampang, karena masyarakat Sanggar yang tersisa saat ini seperti tercerabut dari akar budaya mereka. Jejak peradaban di Semenanjung Sanggar, lebih banyak muncul dalam bentuk artefak dan tulang-belulang yang terkubur material letusan Gunung Tambora hampir 200 tahun lalu, dan baru mulai digali kembali pada 2004 oleh Haraldur Sirgurdsson, vulkanolog dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat.
Penggalian yang kemudian diteruskan para arkeolog Indonesia hingga saat ini. Namun, upaya merekonstruksi peradaban masa lalu ini masih sulit karena luasnya area yang tertutup awan panas, dibandingkan upaya penggalian yang ”hanya” 25 meter persegi tiap tahunnya.


Sebelumnya, cerita soal peradaban masa lalu di lereng gunung itu dilestarikan masyarakat Sanggar dalam bentuk dongeng. ”Kami inilah suku Kore dari Kerajaan Sanggar, pewaris kecantikan legenda Putri Dae Minga,” kata Suhada M Saleh (55), tokoh masyarakat Sanggar.


Lira atau bilah kayu asam untuk menenun yang warnanya hitam kelam serat alat pemintal benang yang disebut janta, yang masih dimiliki Suhada dan diwarisinya dari leluhurnya, menunjukkan kesamaan dengan alat tenun yang digali para arkeolog.


Sampai sekarang, masih banyak yang menyimpan alat tenun ini walau sebagian sudah rusak. Bagi perempuan Sanggar, alat tenun ini hingga kini masih dianggap sebagai senjata. Kami juga punya tarian yang melambangkan perempuan-perempuan menggunakan lira sebagai senjata,” kata Suhada.


Selain alat tenun, warga juga meyakini lesung berusia ratusan tahun di Desa Boro, Kecamatan Sanggar, sama bentuknya dengan yang ada di Tambora. Warga Sanggar secara rutin masih memainkan lesung itu dalam pertunjukan Kareku Kandei di berbagai acara hajatan.


Dari temuan Balai Arkeologi Denpasar, yang dipimpin Made Geria, di lubang ekskavasi Oi Bura, menunjukkan bahwa beberapa temuan di sana memang mengindikasikan ada kemiripan antara Tambora dan Sanggar. Bahkan, tim peneliti ini sering mendiskusikan berbagai temuan di lubang penggalian ke salah satu warga Sanggar yang masih paham soal budayanya, As’ad (32), seorang guru di SMAN 1 Sanggar.


”Kemiripan yang ditemukan seperti alat tenun, sama yang ditemukan di Desa Boro, di alat tenun itu biasanya disimpan benang menggunakan anyaman dengan daun lontar. Ditemukan juga lesung, ukirannya sama dengan di Kore, Sanggar.


Ukiran di pojok dinding rumah yang ditemukan di lubang ekskavasi juga sama dengan rumah di Sanggar. ”Model rumah panggung juga sama, rumah panggung dengan enam tiang yang disebut pa’a sekolo.


Kesamaan benda-benda arkeologis di lubang galian Kerajaan Tambora dengan barang yang dimiliki warga Sanggar saat ini menguatkan, adanya anyaman sejarah di antara keduanya.
Jika tulang-belulang dan berbagai artefak yang ditemukan di lubang galian Desa Oi Bura adalah bukti mati yang berkisah, kehidupan di Sanggar adalah artefak yang hidup. Keduanya, sama-sama penting untuk diungkap lebih lanjut oleh para peneliti untuk membuktikan keberadaan peradaban yang terkubur oleh letusan sebuah gunung berapi.

Artikel lain:
ASAL USUL SUKU BAYAN
ASAL USUL SUKU DOMPU

Sunday, May 28, 2017

ASAL USUL SUKU DONGGO NTB







ASAL USUL SUKU DONGGO - Suku Donggo merupakan penduduk pendatang yang bermukim di wilayah Kabupaten Dompu, serta wilayah Kabupaten Bima di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Menurut sumber menunjukkan bahwa wilayah asal mereka ialah dari Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, serta empat wilayah kecamatan di Kabupaten Dompu, diantaranya Kecamatan Huu, Dompu, Kempo, serta Kilo. Wilayah ini berbatasan dengan Donggo. Masyarakat Donggo menggunakan bahasa sehari hari dengan bahasa Mbojo seperti penduduk suku bangsa Mbojo (Bima).


Masyarakat Donggo menganggap mereka berasal dari wilayah Swangga, dimana tempat yang terletak di suatu pegunungan yang tinggi serta terpencil. Zaman dulu mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil, di setiap kelompok dipimpin oleh pimpinan yang disebut Naka-Niki. DI antara kelompok-kelompok kecil itu sering terjadi perang atau konflik. Mereka mengembangkan pola hidup nomaden serta hidup dari berburu. Pada zaman itu mereka sebut dengan zaman Naka-Niki Tu jug zaman "terbang" (ngemo), karena di saat itu orang yang meninggal tidak dikubur melainkan terbang serta menghilang begitu saja.

Seiring perjalanan terjadi perubahan yaitu mereka tidak lagi hidup di pegunungan. Mereka berangsur turun serta bermukim di dataran rendah dan  berkomunikasi dengan kelompok-kelompok lain. Perubahan sangat terasa di kala sudah tidak terjadi dan berkurangnya konflik antar kelompok. Selain berburu mereka mulai menetap serta bercocok tanam, dan terbentuklah kelompok-kelompok yaitu klen (rafu), dengan masuknya unsur-unsur agama Hindu.





Adat istiadat dan kelompok sosial semakin berkembang. Pemimpin kelompok yang sudah menjadi lebih besar disebut Neuhi. Di abad ke-14 kedudukan serta peranan neuhi ini sudah sangat kuat.

Pada abad ke-20 mulai masuk pengaruh agama katolim dan agama Islam. Penduduk Donggo semakin terbuka dengan dunia serta masyarakat lain. Dan lebih cepat menerima pembaharuan-pembaharuan. Semenjak mereka turun ke dataran rendah mereka bisa berkomunikasi dengan kelompok lain, di antaranya dari flores, Ambon yang menambah pengetahuan sehungga mereka menetap serta membuat rumah tinggal.


Mata Pencaharian Suku Donggo
Sudah lama, mereka melakukan pertanian ladang dengan sistem tebas bakar (ngoho). Dengan pembakaran pohon yang sudah ditebang untuk dilaksanakan pembersihan sisa bakaran (boro). Serta menjadikan lahan yang siap untuk ditanami sambil menunggu hujan, sebelum melakukan penanaman mereka mengadakan upacara raju yaitu ritual untuk menentukan hari yang baik dalam bertanam. Setelah itu dilakukan upacara kadaki untuk pengusiran hama di saat tanaman itu sudah cukup besar serta sambil menunggu masa panen.

Di samping bertani mereka juga berburu biasanya dilakukan dengan berkelompok dalam seminggu atau sebulan sekali. Masyarakat Dongu juga melakukam perburuan massal setahun sekali. Dan di bagi hasil buruanya tergantung pada tenaga serta jasa seseorang. Tetapi jika hasil buruannya cukup banyak maka daging buruan akan dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat kampung. Hasil buruan itu mereka tafsirkan dengan hasil pertanian. Jika mereka banyak memperoleh kijang (maju), maka hasil pertanian akan berkurang, tetapi jika mereka banyak memperoleh babi (wawi), maka hasil pertanian akan melimpah. Di pemukiman mereka juga berternak di antaranya ialah sapi, kuda, kambing, kerbau, ayam, serta babi. Dalam menentukan kekayaan pada masyarakat ini ialah dengan luasnya sawah, ladang, serta banyaknya ternak.


Kekerabatan Suku Donggo
Dalam Kelompok kerabat keluarga batih merupakan keluarga batih patrilineal. Yaitu seorang ayah sangat dihormati serta memiliki kekuasaan yang lebih besar. Bila terjadi perceraian maka anak-anak akan berada dipihak suami, sementara isteri akan dikembalikan kepada keluarganya dan hanya menerima benda-benda pusaka serta sebagian dari harta yang didapat sebelum bercerai. Terdapat bebrapa istilah dalam kekerabatan yaitu keluarga inti ialah ama untuk ayah, ina untuk ibu, wi untuk istri, rahi untuk suami, anak sulung disebut ulu, anak bungsu disebut cumpukai dan lain-lain. Dalam keluarga yang anggotanya selain keluarga inti, tetapi terdapat anggota kerabat lain, contohnya nenek, bibi, atau kemenakan serta kelompok kerabat, ini disebut ngge'e la'bo.

Tradisi mereka dalam perkawinan adalah dengan menjodohkan anaknya sejak masih kecil, serta sebagian besar kawin muda. perempuan sudah cukup syarat untuk kawin jika sudah datang masa haid serta sudah pandai bertenun menurut kepercayaan mereka. Dalam perkembangan tradisi ini sudah banyak berubah. Dalam masa pendekatan atau berpacaran tidak di jalankan dalam masyarakat ini. Jika seseorang anak laki-laki menginginkan seseorang gadis mereka langsung menyatakan keinginan itu kepada orang tuanya. Dan dilanjutkan orang tua laki-laki akan melakukan peminangan. Jika sudah bertunangan tradisi mereka maka se orang menantu laki-laki wajib mengabdi atau bekerja membantu calon mertuanya untuk menuju ke masa perkawinan. Serta mas kawin yang biasanya diminta ialah uang, rumah, kerbau, serta ternak.

Periode kehidupan oleh penduduk ini, ialah sesudah melahirkan dimana sang bayi disusukan oleh saudara dekat dari yang bersalin. Sekitar tujuh hari setelah melahirkan api yang berada di dapur tidak boleh mati. Dan ada upacara pemberian nama (cafe sari) setelah bayi berumur tujuh hari. Untuk masyarakat yang beragama Islam dilakukan sunatan baik laki-laki maupun perempuan. Anak laki-laki disunat pada usia 5-6 tahun. Dalam rangka sunatan itu masih ada tradisi yang dilakukan yaitu upacara berdasarkan tradisi setempat, contohnya acara mako, ialah memberi semangat kepada sang anak. Si anak sambil memegang keris mengucapkan pantun-pantun dengan diiringi gendang.


Agama dan Kepercayaan Suku Donggo
Sekarang sebagian besar masyarakat memeluk agama Islam serta ada sebagia beragama Kristen.
Masyarakat Donggo juga pernah mengenal serta mempercayai kekuatan gaib, di antaranya "Dewa Langit" (Dewa Langi), "Dewa Air" (Dewa Oi), serta "Dewa Angin" (Dewa Wango). Dewa langit merupakan Dewa yang dianggap paling berkuasa serta berada di atas awan dan matahari. Dewa Angin akan mereka puja pada saat ada wabah penyakit, sementara Dewa Air di saat ada musim kemarau panjang yang mengancam tanaman mereka.


Artikel lain :
ASAL USUL SUKU BAYAN
ASAL USUL SUKU DOMPU

Thursday, May 25, 2017

ASAL USUL SUKU SASAK








ASAL USUL SUKU SASAK - Suku Sasak sudah tinggal di Pulau Lombok selama berabad-abad lamanya, Mereka sudah menghuni sejak 4.000 Sebelum Masehi. Ada pendapat menyatakan bahwa orang Sasak berasal dari percampuran antara penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari pulau Jawa. Ada juga yang berpendapat leluhur orang sasak ialah orang Jawa. Dari jumlah penghuni pulau Lombok, hampir 80 persen nya merupakan suku Sasak.

Menurut Goris S., “Sasak” secara etimologi, berasal dari kata “sah” yang berarti “pergi” dan “shaka” yang berarti “leluhur”. Dengan demikian Goris berkesimpulan bahwa sasak mempunyai arti “pergi ke tanah leluhur”. Dari pengertian itulah diduga bahwa leluhur orang Sasak itu ialah orang Jawa. Bukti lain yang merujuk pada aksara Sasak yang digunakan oleh orang Sasak disebut sebagai “Jejawan”, adalah aksara yang berasal dari tanah Jawa, pada perjalananya, aksara ini diresepsi dengan baik oleh para pujangga yang melahirkan tradisi kesusasteraan Sasak. Tetapi ada juga yang beranggapan lain dengan meyebut bahwa sasak berasal dari kata  sak-sak yang mempunyai arti sampan. Analisa ini berkaitan dengan legenda kedatangan nenek moyang suku Sasak yang menaiki sampat dari arah barat. Serta menurut sumber yang lainnya disebutkan bahwa etimologi nama Sasak berhubungan dengan kitab Negarakertama karangan Mpu Prapanca pada abad ke 14. Di dalam kitab yang memuat catatan kekuasaan Majapahit itu terdapat ungkapan "lombok sasak mirah adi" yang diartikan dengan "kejujuran ialah permata yang utama". Pemaknaan ini merujuk pada sasak yang diartikan sebagai satu atau utama. Sedangkan lombok berarti jujur atau lurus, mirah diartikan perhiasan, serta adi bermakna baik.

Sejarah pulau Lombok memang tidak bisa dipisahkan dengan silih bergantinya kekuasaan pada zaman itu. Dulu kala di zaman pemerintahan Raja Rakai Pikatan di Medang (Mataram kuno), suku Jawa sudah banyak memasuki wilayah Lombok serta menikah dengan penduduk asli dan menjadikan nenek moyang suku Sasak. Sejak abad 14-15 masehi, pulau Lombok dalam kekuasaan kerajaan Majapahit. Bahkan konon ceritanya, sang patih Gajah Mada datang sendiri ke Lombok untuk menaklukan beberapa kerajaan yang berada di pulau yang bersebelahan dengan Bali itu. Tetapi dengan melemahnya pengaruh Majapahit Islam masuk serta kemudian meyebar luas. Terutama setelah menerima bantuan langsung dari para wali di jawa serta Makassar. Yang menyebabkan sekarang agama Islam menjadi agama mayoritas di pulau Lombok dan menyisakan sedikit masyarakat yang masih memeluk agama Sasak Boda peninggalan leluhur mereka. Sekarang pemeluk Sasak Boda lebih banyak menyingkir serta tinggal di wilayah lembah serta pegunungan Lombok bagian selatan.




Dalam sejarahnya, Suku Sasak diidentifikasikan sebagai budaya yang dapat pengaruh banyak dari Jawa serta Bali. kenyataannya kebudayaan Suku Sasak mempunyai corak serta ciri budaya yang khas, asli serta sangat mapan hingga berbeda dengan budaya suku-suku bangsa lainnya. Sekarang, Sasak dikenal bukan hanya sebagai kelompok penduduk tetapi juga merupakan entitas budaya yang melambangkan kekayaan tradisi dan budaya Bangsa Indonesia di mata dunia.

Tradisi suku Sasak yang sangat terkenal diantaranya:
Bau Nyale. Nyale merupakan sejenis binatang laut, termasuk dalam jenis cacing (anelida) yang berkembang biak dengan bertelur. Dalam kepercayaan Suku Sasak, Nyale bukanlah sekedar binatang, beberapa legenda dari Suku ini yang menggambarkan tentang putri yang menjelma menjadi Nyale. Ada pendapat mengatakan bahwa Nyale ialah binatang anugerah, bahkan keberadaannya dihubungkan dengan kesuburan serta keselamatan. Ritual Bau Nyale digelar setahun sekali pada tanggal 19 atau 20 setiap bulan oktober atau november.

Rebo Bontong. Yang di percaya bahwa hari Rebo Bontong adalah hari puncak terjadinya bencana atau penyakit (Bala) sehingga untuk masyarakat sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo Bontong. Kata Rebo serta juga Bontong mempunyai arti “putus” atau “pemutus. Acara ini dilaksanakan setahun sekali  pada hari Rabu di Minggu terakhir.

Bebubus Batu. Dari kata “bubus”, merupakan sejenis ramuan obat berbahan dasar beras yang dicampur dengan berbagai jenis tanaman, dan dari kata batu yang merujuk kepada batu tempat digelarnya upacara. Bebubus Batu merupakan upacara yang digelar untuk meminta berkah kepada sang Kuasa. Acara ini di gelar setiap tahun, dipimpin oleh Penghulu (pemangku adat) serta Kiai (ahli agama). Dan penduduk ramai-ramai mengenakan pakaian adat serta membawa dulang, sesajen dari hasil bumi.

Sabuk Beleq. Dalam pustaka sabuk yang besar (Beleq) bahkan panjangnya mencapai 25 meter, masyarakat Lombok yang berada di wilayah Lenek Daya akan menggelar upacara pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah. Budaya pengeluaran Sabuk Beleq ini di awali dengan mengusung Sabuk Beleq mengelilingi perkampungan diiringi dengan tetabuhan gendang beleq. Ritual upacara selanjutnya dengan menggelar praja mulud hingga diakhiri dengan memberi makan berbagai jenis makhluk. Acara ini dilakukan dengan tujuan untuk mempererat ikatan persaudaraan, persatuan serta gotong royong antar masyarakat, dan cinta kasih di antara makhluk Tuhan.


Artikel lain : ASAL USUL SUKU BAYAN

ASAL USUL SUKU BALI AGA







ASAL USUL SUKU BALI AGA - Diperkirakan yang jadi cikal bakal manusia yang menempati pulau Bali merupakan bangsa Austronesia terbukti dari peninggalan yang tersebar di Bali seperti alat batu kapak persegi. Bangsa Austronesia berasal dari daerah Tonkin, Cina yang dalam perjalananya kemudian mengarungi laut yang sangat luas dengan kapal bercadik pada tahun 2000 sebelum Masehi.

Bangsa Austronesia mempunyai kreasi seni yang sangat tinggi. Terlihat dari hiasan-hiasan nekara serta sarkofagus , peti mayat lengkap dengan bekal kuburnya yang masih tersimpan rapi di Bali. Bangsa ini mempunyai kehidupan yang teratur serta membentuk suatu persekutuan hukum yang dinamakan thana atau dusun yang terdiri dari beberapa thani atau banua. Hal inilah yang diperkirakan menjadi cikal-bakal desa-desa di Bali. Bangsa ini juga yang kemudian menurunkan masyarakat asli pulau Bali yang disebut Orang Bali Mula atau ada juga yang menyebut Bali Aga.

Waktu itu orang-orang Bali Mula belum mempunyai agama. Mereka hanya menyembah leluhur yang di sebut Hyang. Untuk segi spiritual mereka masih hampa, ini terjadi sampai abad ke empat sesudah masehi. Melihat pulau Bali yang masih tertinggal maka penyiar Agama Hindu mulai berdatangan ke pulau ini. Di samping untuk mengajarkan agama juga ingin memajukan Bali dalam segala hal. Maka muncullah seorang Resi ke Bali yang bernama Resi Maharkandya yang berasal dari India.

Sebutan Maharkandya merrpakan bukan nama perorangan tetapi nama suatu perguruan yang mempelajari serta mengembangkan ajaran-ajaran gurunya. Resi Maharkandeya menolak semua marabahaya yang menhalangi setelah diberikan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa untuk melaksanakan upacara penanaman lima logam yang disebut panca datu di daerah Wasuki yang berkembang menjadi Basuki yang berarti keselamatan. Hal ini merupakan awal mula kehidupan harmonis antara masyarakat pendatang (agama Hindu) berdampingan dengan orang Bali Mula yang merupakan penduduk asli pulau Bali.
Di wilayah Basuki ini akhirnya dibuat sebuah pura yang terbesar se Asia Tenggara yaitu Pura Besakih. Di saat kerajaan Majapahit runtuh, pemeluk agama Hindu terdesak dengan datangnya agama Islam yang menduduki pulau Jawa yang membuat pindah ke pulai Bali untuk menghindar harus menghindar. Semakin banyak masayrakat Jawa akhirnya tinggal serta mengembangkan agama Hindu sampai begitu pesat di Pulau Bali.




Terdapat perbedaan antara Bali Mula dengan Bali yang datang dari Majapahit terlihat dari upacara kematiannya. Orang Bali Mula, melaksanakan upacara dengan cara di kubur atau ditanam, yang disebut beya tanem. Untuk orang Bali yang pendatang, melakukan upacara dengan cara dibakar. Ini dapat dijelaskan karena Bali Mula adalah keturunan Austronesia dari jaman perundagian. Adat ini sudah begitu melekat dan sulit untuk dirubah.

Saat ini kita bisa menemukan komunitas Bali Mula serta Bali Aga berada di Desa Tenganan yang sangat dekat dari daerah Candi Dasa Bali. Jika ingin yang lebih ekstrim serta pedalaman dapat mengunjungi Desa Trunyan di pinggir Danau Bratan yang dikenal dengan pohon Banyan yang mengeluarkan harum yang khas sehingga mayat-mayat disana tidak dibakar dan dibiarkan begitu saja diletakkan dekat pohon tersebut yang tidak menimbulkan bau sama sekali.

Perkembangan Hindu Bali serta Bali Aga
Perkembangan hindu bali erat kaitannya dengan datangnya kerajaan majapahit ke Bali. Prasasti Blanjong adalah prasasti setelah kedatangan Resi Markadeya ke Bali, prasasti itu menyebutkan bahwa bali dwipa diperintah oleh Raja  Khesari Warmadewa atau Raja Ugrasena yang berkedudukan di Singhadwala (915-945). Setelah meninggal serta dimandikan dengan air madatu raja Ugrasena digantikan oleh raja Jayasingha Warmadewa. Raja Jayasingha Warmadewa digantikan oleh Raja Jayasadhu Warmadewa (975 M – 983 M), dan digantikan oleh seorang Ratu yang bernama Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi (983 M – 989 M). Selanjutnya digantikan oleh Dharmodayana (989 M – 1011 M) yang dikenal dengan Raja Udayana. Raja Udayana menikah dengan Gunapriayadharmapatni alias mahendradatta dari kerajaan Medang Kemulan jawa timur yang kemudian bergelar Sri Gunaprya Dharmmapatni di karuniai tiga orang anak di antaranya : Airlangga, Marakata, serta Anak Wungsu.

Di waktu pemerintahan Sri Gunaprya Dharmmapatni inilah terdapat perubahan besar-besaran terhadap semua aspek kehidupan di Bali dari sistem serta struktur pemerintahan, tata cara kemasyarakatan, maupun bidang lainnya yaitu bidang keagamaan atau lebih dikenal dengan (Politik, ekonomi, sosial, budaya dan agama). Di saat itulah kemudian dikenal dengan jaman perubahan, dengan memberikan corak serta warna pada kehidupan penduduk Bali, yang menjadikan dari situasi pertentangan menjadi persatuan serta kesatuan. Yang sangat penting diketahui bahwa adanya konflik diakibatkan adanya perbedaan kepercayaan yang dianut oleh penduduk Bali yang mayoritas adalah Bali Aga.

Pada waktu itu, penduduk Bali mengenal adanya sad paksa (yang oleh peneliti barat disebut dengan enam sekte) adalah Sambhu, Khala, Brahma, Wisnu, Bhayu dan Iswara, di dalam pelaksanaanya sering membuat keresahan. Dengan keanekaragaman paksa itu, keamanan serta ketertiban menjadi terganggu. Ini menjadi problema social secara terus-menerus yang sulit untuk diatasi oleh raja Sri Gunaprya Dharmmapatni. Dengan ini Raja Sri Gunaprya Dharmmapatni mendatangkan Catur Sanak (empat bersaudara) dari Panca Tirthadari Jawa Timur yang sudah terkenal keahliannya dalam bidang aspek kehidupan. Perlu diketahui Panca Tirtha merupakan sebutan dari Panca Sanak keturunan Mpu Tanuhun ialah yang sulung bernama Brahmana Pandhita, kedua Mpu Semeru alias Mpu Mahameru, yang ketiga Mpu Ghana, yang keempat adalah Mpu Kuturan alias Mpu Rajakreta, serta yang bungsu adalah Mpu Baradah alias Mpu Pradah. Mereka itu dikenal dengan  Panca Pandita atau Panca Tirtha, yang juga digelari Panca Dewata.

Catur Sanak yang didatangkan dari Jawa Timur secara bertahap, yang selanjutnya mendampingi beliau dalam pemerintahan, yaitu : Yang Pertama adalah Mpu Semeru alias Mpu Mahameru yang memeluk ajaran Siwa., tiba di Bali pada jumat Kliwon, Wara Pujut, Hari Purnamaning Sasih Kawolu, Chandra Sangkala Jadma Siratmaya, Tahun Saka 921 (999 M). selanjutnya beliau berparahyangan di Besakih, yang kemudian mendirikan sebuah pura yang disebut ( Pura Ratu Pasek, sebagai Pedharman Warga Pasek ( Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi) serta Warga Pasek Kayu Selem. Mpu Ghana merupakan penganut aliran Ghanapatya, tiba di Bali pada hari Senin Kliwon Wara Kuningan, Pananggal Ping 7, tahun Saka 923 (tahun 1000 M), beliau kemudian berparahyangan di Pura Dasar Buwana Gelgel. Lalu Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha aliran Mahayana, yang tiba pada hari Rabu Kliwon, Wara Pahang, Madhuraksa, Tahun Saka 923 (tahun 1001 M), yang kemudian berparahyang di Padang (Pura Silayukti). Dan yang terakhir adalah Mpu Gnijaya, pemeluk Brahmaisme, tiba di Bali pada haro Kamis Umanis, wara Dunggulan, Sasih Kadasa, pananggal 1, tahun saka 971 (tahun 1049 M). beliau berparahyangan di Pura Lempuyang Madya.

Berdasarkan lontar Tatwa Siwa Purana kedatangan Para Mpu dari Catur Sanak ini memberi dampak yang sangat besar pada tatanan kehidupan keagaman di Bali. Oleh Raja Sri Gunaprya Dharmmapatni, Mpu Kuturan diangkat menjadi Pakiran-kiran Ijro Makabehan, sebagai penasehat raja. Keadaan Kerajaan Bali kala itu adanya kekacauan terhadap sad paksa yang ada di bali, untuk itu Mpu Kuturan melalukan penelitian terhadap masyarakat Bali Aga. Atas penelitiannya tersebut Mpu Kuturan mengadakanpasamuhan agung (rapat Besar) yang mengumpulkan tiga kelompok yaitu Mpu kuturan sendiri sebagai penganut aliran Budha Mahayana, tokoh-tokoh atau pimpinan penduduk Bali Aga yang terdiri dari sad paksa yang dijadikan satu kelompok, serta tokoh-tokoh agama aliran Siwa. Dalam pasamuhan agung tersebut disepakati 5 hal yaitu :

Faham Tri Murti dijadikan dasar keagamaan, yang mencangkup seluruh aspek kehidupan.
Dibentuk wadah desa pakraman, yang kemudian melahirkan Kahyangan Tiga yaitu Pura Bale Agung atau pura desa, sebagai tempat pemujaan Tuhan dengan manifestasinya Dewa Brahma, Pura Puseh sebagai tempat memuliakan dan memuja sang Hyang Widhi Wasa atau menifestasinya Dewa Wisnu sebagai Pemelihara dan Pura Dalem sebagai tempat memuja Dewa Siwa. Disamping itu juga bangunan pura di sawah untuk krama subak (warga subak)
Sebagai pemujaan leluhur dibuatkan pelinggih Rong Tiga (sanggah kemulan) di masing-masing Rumah.
Tanah untuk Pura Kahyangan Tiga menjadi milik Desa Pakraman yang tisdak boleh diperjualbelikan.
Tentang agama yang dianut oleh masyarakat Bali disebut Agama Siwa-Budha.

Dengan adanya keputusan dalam pasamuhan agung tersebut maka tentramlah masyarakatBali Aga. Masyarakat Bali Aga menerima hasil tersebut dan mengubah cara keagamaan mereka dari aliran waisnawa menjadi Agama Siwa-Budha. Sebenarnya masih banyak Mpu yang berperan tentang perubahan keagamaan di Bali, Seperti Mpu Kamareka, Mpu Kul Putih, Mpu Ketek dan lainnya yang semuanya keturunan Sanak Sapta Rsi, tetapi catur sanak inilah yang paling terkenal di Bali.

Karena Airlangga menikah dengan putri Raja Dharmawangsa (raja jawa timur) dan kemudian menetap di Jawa Timur. Raja Marakata menggantikan Raja Udayana (Sri Gunaprya Dharmmapatni. Marakata diberi gelar Dharmawangsa Wardana Marakatta Pangkajasthana Uttunggadewa yang memerintah di Bali dari 1011 – 1022. Kemudian digantikan oleh anak Wungsu (1049 – 1077) yang memerintah selama 28 tahun dan dikatakan selama pemerintahannya keadaan negara aman tenteram. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan dan meninggal tahun 1077 dan di dharmakan di Gunung Kawi dekat Tampak Siring. Setelah Anak Wungsu meninggal, keadaan kerajaan di Bali tetap mengadakan hubungan dengan raja-raja di Jawa dan ada dikisahkan seorang raja Bali yang saat itu bernama Raja Bedahulu yang memiliki seorang patih yang sangat sakti yang bernama Ki Kebo Iwa atau Kebo Taruna.

Pada saat Bali diperintah oleh Raja Bedahulu, Majapahit berusaha untuk menguasai Bali. Tetapi Kryian Mahapatih Gajah Mada benar-benar tahu bahwa kerajaan Bali tidak mungkin bisa ditaklukkan apabila masih ada Ki Kebo Iwa yang menjaga Bali. Atas dasar itu, Mahapatih Gajah Mada mengunakan siasat licik untuk menjebak Ki Kebo Iwa. Mahapatih Gajah Mada mengundang Ki Kebo Iwa untuk datang ke Jawa untuk dinikahkan dengan Putri majapahit kala itu, tetapi setelah datang ternyata Ki Kebo Iwa dibunuh disana oleh Mahapatih Gajah Mada. Setelah kejadian itu, majapahit kemudian menyerang bali dan akhirnya Bali Dwipa dengan Raja Bedahulu dapat dikalahkan dan Bali berada pada kekuasaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit masuk ke Bali, kemudian berusaha untuk menyesuaikan dengan segala hal aspek kehidupan masyarakat Bali supaya dapat diperintah dengan mudah oleh Majapahit. Untuk itu, Majapahit memberi kuasa pada Sri Kresna Kepakisan agar memimpin pemerintahan di Bali dalam pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan mempunyai hubungan darah dengan masayrakat Bali Aga. Penunjukan Sri Kresna dengan tujuan agar mempermudah pemerintahan yang dilaksanakan oleh Majapahit sendiri. Dengan demikian Sri Kresna Kepakisan, berusaha menerapkan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh majapahit di Bali. Kebijakan yang pernah diambil oleh Sri Kresna Kepakisan adalah mengubah status Pura Babaturan Pangangasih sebagai parahyangan Mpu Ghana menjadi pura kerajaan serta diberi nama Pura Dasar Buwana Gelgel. Namun karena sebagian besar kebijakan untuk mengalirkan Agama Hindu Majapahit yang dalam prakteknya menyinggung keyakinan masyarakat Bali Aga maka Bali Aga melakukan pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Pasek Gelgel dari Tampuryang. Majapahit mengetahui hal itu serta berusaha untuk meredam pemberontakan tersebut supaya tidak terjadi kekacauan di Bali. Dengan itu Majapahit mengundang Ki Pasek Gelgel untuk berdialok dengan kesepakatan bahwa Bali Aga bebas untuk melakukan keyakinannya.

Kala Kerajaan Majapahit mengalami kehancuran serta masuknya agama islam di Nusantara. Maka sebagian besar penduduk hindu menghindar serta bertahan di pegunungan. Ada yang melarikan diri ke Bali. Melihat hal itu eorang Pinandhita, dikenal dengan nama Dang hyang Nirarta berangkat ntuk mempertebal keyakinan orang Bali akan Hindu dan tentunya hal ini mengubah cara pandang penduduk tentang keagamaan karena sang Hyang Niratha juga disebut Pedanda Sakti Wawu Rauhyang yaitu pendeta sakti yang baru datang, disamping itu beliau juga disebut Sang Hyang Dwijendra. Salah satu warisan Dang Hyang Nirartha yaitu Padmasana sebagai tempat pemujaan Siwa Raditya. Untuk  penghormatan kepada beliau, setiap Pura yang didirikan oleh Dang Hyang Nirartha disebut dengan Pura Dang Kahyangan. Dalam perjalanan Dang Hyang Nirartha yang di awali dari Tanah Lot sampai Uluwatu sebagian besar dilakukan di pesisir sehingga tidak berpengaruh terhadap keagamaan penduduk Bali Aga.

Perbedaan Hindu Bali Dengan Hindu Menurut Bali Aga Di Desa Sukawana
Tidak di pungkiri bahwa Hindu Bali memiliki sejarah serta perkembangan yang sangat panjang. Penduduk Bali Aga yang berada di desa Sukawana merupakan penduduk yang leluhurnya dulu memberontak terhadap hindu yang diterapkan oleh majapahit. Sehingga dalam segi keagamaan, penduduk Bali Aga di Desa Sukawana memiliki tata cara serta prosesi yang berbeda dengan Hindu yang berada di Bali Pada umumnya. Oleh karena itu, penduduk Bali Aga yang berada di Desa Sukawana sendiri merupakan penduduk yang selalu menjaga tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya.

Penerapan serta prilaku keagamaan di Desa Sukawana berbeda dengan hindu Bali pada umumnya. Adapun beberapa perbedaan tersebut di antaranya:
Jro Kubayan, merupakan pemimpin tertinggi agama hindu Desa Sukawana. Ada 2 (dua) Jro Kubayan yaitu Kubayan Kiwa serta Kubayan Mucuk yang merupakan panutan bagi umat dalam melakukan pujawali atau piodalan. Di samping itu, Jro Kubayan juga bisa memerintahkan atau melarang segala sesuatu yang dilakukan oleh desa adat. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa Jro Kubayan adalah pemimpin tertinggi adat di Desa Sukawana. Pelaksanakan pujawali atau piodalan yang ada pun harus dipimpin oleh Jro Kubayan, tanpa dipimpin oleh Jro Kubayan maka upacaranya tidak bisa dilaksanakan. Jika Jro Kubayan meninggal Dunia maka dilakukan Upacara khusus keagamaan. Ini terlihat sangat berbeda dengan Hindu Bali yang bukan Bali Aga lainnya yang tidak mengenal Jro Kubayan, namun jika di Tempat lain pemimpin upacara tentunya memakai Pinanditha atau Ida Pedanda dari keturunan Dayu atau Ida Bagus. Akan tetapi kalau di Desa Sukawana, Pinanditha dilarang sama sekali untuk memimpin upacara disana.
Puja Sana, untuk mantra pemujaan. Puja sana ini tidak seperti mantra Hindu yang menggunakan bahasa Sanserkertha, namun puja sana lebih menggunakan bahasa keseharian dengan disertai rasa iman yang tinggi pada Ida Bhatara.
Penjor, untuk simbolis pemujaan di Desa Sukawana tidak ada hiasan apa-apa. Cukup hanya dengan memajang hasil potongan pertama dari asalnya yang kemudian segera dipasang di Pura. Sangatlah berbeda dengan penjor di Bali lainnya dimana penjor tersebut harus dihias dan diisi berbagia macam jenis buah serta hasil pertanian.

Keyakinan orang Bali Aga juga dipengaruhi oleh Mpu yang datang ke Bali. Namun setelah masuknya Hindu Majapahit ke Bali, orang Bali Aga mempertahankan keyakinannya. Keyakinan ini berkembang di daerah pegunungan sehingga menimbulkan perbedaan antara Hindu Bali Aga yang sulit terpengaruh oleh agama Hindu majapahit serta masyakat Bali pesisir yang banyak menyerap ajaran agama hindu dari majapahit. Perbedaan itulah yang menjadikan Bali mempunyai karakter tersendiri.


Artikel lain :
ASAL USUL SUKU TRUNYAN BALU
ASAL USUL SUKU NYAMA SELAM BALI
ASAL USUL SUKU LOLOAN BALI

Tuesday, May 23, 2017

ASAL USUL SUKU BAYAN NTB









ASAL USUL SUKU BAYAN NTB - Tertulis di naskah lontar kuno daerah ini sering disebut kerajaan suwung atau kerajaan sepi, sebuah kerajaan yang lebih banyak ditinggalkan penghuninya. Bayan merupakan daerah tertua di Pulau Lombok yang menjadi pusat berkembangnya budaya dan menyebar ke seluruh pulau Lombok. Adat saking gumi Bayan kutipan dari naskah lontar kuno yang berarti bahwa Adat masyarakat Lombok berpusat dari Gumi Bayan.

Bumi atau Gumi Bayan juga disebut Gumi Nina atau Bumi Perempuan yang berarti Gumi dengan Kasih Sayang mencerminkan Watak Prilaku serta harmonisasi Penghuninya dalam membina hubungan antara manusia dengan alamnya,manusia dengan lingkungan serta manusia dengan sang pencipta

Kerajaan Bayan berada di pesisir pantai utara pulau Lombok dengan batas-batas kerajaan Bayan sebelah timur Tal Baluk sekarang berbatasan dengan kecamatan pringga Lombok timur dan batas sebelah barat Menanga reduh yang sekarang berada di Desa Malaka kecamatan Pemenang kabupaten lombok utara.

Masjid Kuno yang berada di Bayan, dengan arsitektur yang sama, bukti perkembangan islam di lombok didukung dengan cerita-cerita tentang warisan islam seperti kitab,kitab,jungkat, naskah lontar kuno, naskah khotbah makam-makam leluhur memperkuat keberadaan peradaban islam di bumi Bayan disamping itu juga ada bekas kerajaan Bayan yang berpusat di Dusun Bayan timur serta Bayan barat ada rumah adat,loloan,karang bajo, karang salah, Anyar,sukadana, semokan,sembagek,sesait,salut, desa beleq gumantar sedangkan ditimur barung birak,sajang,sembalun dan lainya yang saat ini masih dijaga serta dipelihara oleh para prusa atau keturunan-keturunan mereka.

Di beberapa tempat terdapat kesamaan Bahasa yang mengunakan bahasa Bayan dengan ciri khas kebayanan yang mempermudah mayarakat lain untuk mengenal darimana mereka berasal, bukti sejarah lain seperti Rumah adat di Karang Bayan narmada,makam-makam di sekitar desa kebon ayu gerung, peninggalan sejarah di Desa telaga Lebur kecamatan Sekotong dan sekitarnya seperti Bong,Jungkat serta Naskah Khotbah dapat menjadikan bukti sejarah bahwa Bayan pernah menjadi pusat peradaban Islam masyarakat Lombok. Di sembalun ada daerah yang sejarahnya menerima Islam dari Bayan terbukti mereka para mubaliq yang menyebarkan siar islam menetap serta mempunyai keturunan didaerah itu.


Sebutan Pulau Lombok oleh masyarakat Bayan disebut Gumi nina, terinspirasi dari legenda sosok perempuan yang berada dipulau Lombok antara lain Dewi Anjani,Putri Mandalika serta Denda Cilinaya.

Sejarah Dewi Anjani adalah cerita di masyarakat Bayan serta Lombok pada umumnya yang merupakan Ratu Jin yang berkuasa di Gunung Rinjani, mereka salah seorang anak dari datu Tawun yaitu salah satu Raja Bayan yang pernah berkuasa di Bayan, Dewi Anjani diangkat menjadi ratu Jin setelah bertapa selama bertahun-tahun lamanya. Gunung Rinjani menyimpan pesona alam yang sangat menakjubkan sehingga memancing minat wisatawan yang merupakan andalan wisata Pulau Lombok bahkan provinsi Nusa tenggara Barat.

Sejarah Putri Mandalika dari Pantai selatan menjadi terkenal karena kebesaran hati sang putri, dikisahkan karena banyaknya para pageran yang ingin mempersunting sang putri maka, diadakan sayembara untuk memperebutkan sang putri, dalam sayembara banayk korban berjatuhan sang putri tidak tega melihat karena memperebutkan dirinya dan sang putri tidak dapat menentukan pilihan akhirnya iapun menceburkan dirinya kelaut seketika itu muncullah Yale berupa cacing laut warna-warni yang merupakan  sosok jelmaan dari Putri Mandalika yang dapat ditangkap dan dinikmati oleh siapa saja yang berkunjung dipantai selatan. Kebesaran hati Putri mandalika membuat legenda Putri yale atau putri mandalika sampai sekarang tidak habis oleh waktu. Pantai Selatan atau yang dikenal dengan pantai kuta merupakan tempat dimana legenda Putri Mandalika terjadi tradisi mbau nyale yang menjadi daya tarik disertai dengan pasir putih serta panorama pantainya yang sangat indah.

Di naskah Lontar berjudul Cilinaya dikisahkan tentang Legenda Cilinaya yang berada di Desa anyar Kecamatan Bayan kabupaten lombok Utara diceritakan bahwa sekian lamanya terpisah dari keluarga Denda Cilinaya dipertemukan dengan Keluarganya,kisah memilukan tentang Putri Seorang Raja yang bernama Datu Keling dengan seorang pangeran dari Kerajaan Daha yang membuat iba siapapun. Tanjung menangis jadi saksi bisu legenda Cilinaya dulu pada malam-malam keramat salah satu tanjung didekat kubur cilinaya terdengar seperti orang  yang menangis sehingga disebut tanjung menangis. Tidak jauh dari tanjung menangis terdapat makam clinaya yang hingga kini masih dipelihara keberadaanya dan tidak jauh dari itu terdapat satu pelabuhan yaitu pelabuhan carik dimana pelabuhan ini merupakan pelabuhan bersejarah karena tempat para mubaliq penyebar siar islam berlabuh dan berdagang.

Gumi nina mangambarkan prilaku penduduk yang menegedepankan sifat-sifat keibuan, kasih sayang,lemah lembut tingkah laku tutur kata penghuninya dalam bergaul maupun dalam menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Gumi nina merupakan Gumi atau bumi yang setiap jengkal tanahnya dapat tumbuh subur benih-benih kehidupan. Sosok seorang perempuan yang menggambarkan sebagai sosok yang akan melawan,marah apabila anak-anaknya terancam atau digangu ketentramannya.

Masa penguasaan Raja Karang Asem yang bertahta di Cakra mataram serta pedudukan Hindia Belanda selama 1 1/2 abad atas wilayah nusantara ditambah dengan 2,5 tahun pedudukan tentara Jepang telah menjadi pengalaman berharga yang mempengaruhi corak atas keyakinan,sistem pemerintahan, sosial, politik serta Budaya yang berkembang di Bayan.

Perkembangan Pemerintahan Bayan setelah kemerdekaan tidak lagi berbentuk kerajaan dan sudah menyesuaikan diri  dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, sementara waktu belum disebut sebagai sebuah sistem pemerintahan pada daerah Bayan masih disebut Perbekel dengan perbekelnya bernama Raden Singasan, dan Desa Bayan sendiri dipimpin oleh seorang kepala Desa atau disebut Pemusungan dengan pemusungan, sepanjang berdirinya kecamatan Bayan  pernah satu kali mengalami pemekaran yaitu pemekaran atas Kecamatan Kayangan.

Bayan merupakan Daerah terpencil di Pulau Lombok, daerah ini dikenal karena masih menyimpan serta memelihara kekayaan warisan budaya, sementara di  tempat-tempat lain jika diamati sudah tidak ditemukan lagi keunikan budaya yang diwarisi turun temurun, daerah ini masih polos dengan budaya yang masih perawan. Perkembangan  budaya  terbangun melalui bentangan sejarah yang panjang membentuk satu tatanan fanatisme masyarakat terhadap Adat istiadat yang berkembang sehingga dampaknya menjadikan Adat Istiadat di Bayan kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat  masih tetap terjaga kelestariannya.

Sekarang Bayan merupakan nama Desa yang juga di pakai jadi nama kecamatan, Kecamatan Bayan ialah salah satu Kecamatan dari lima kecamatan yang ada di kabupaten Lombok utara,Kecamatan Bayan terdiri dari 9 (Sembilan) Desa yaitu Desa Sambik Elen,Loloan,Bayan,Senaru,Karang Bajo,Anyar,SukaDana,Akar-akar Dan Mumbul Sari. Kecamatan Bayan merupakan kecamatan yang terletak di sebelah timur yang berbatasan dengan kecamatan Sembalun kabupaten Lombok Timur Dan batas barat yaitu kecamatan Kayangan Utara Laut Jawa Dan sebelah Selatan Hutan Taman Nasional Gunung Rinjani.

ASAL USUL SUKU DOMPU NTB








ASAL USUL SUKU DOMPU NTB - Suku Dompu, merupakan salah satu suku yang bermukim di pulau Sumbawa kabupaten Dompu provinsi Nusa Tenggara Barat. 


Suku Dompu di pulau Sumbawa, berdiam di wilayah dengan empat kecamatan, yakni kecamatan Huu, kecamatan Dompu, kecamatan Kempo dan kecamatan Kilo. 
Selain suku ini yang bermukim di pulau Sumbawa, ada beberapa suku lain yang juga hidup dan tinggal di pulau Sumbawa ini, di antaranya suku orang Bima, Donggo dan Sasak yang merupakan suku asli Nusa Tenggara Barat. Selain itu terdapat beberapa suku pendatang, di antaranya suku Melayu, Bugis, China, Arab, Bali dan Timor. 


Bahasa yang di gunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Dompu, yang sering disebut juga sebagai bahasa Nggahi Mbojo.


Di ceritakan asal-usul Dompu, pada zaman dulu di wilayah ini adalah salah satu daerah bekas kerajaan, yaitu Kerajaan Dompu. Yang merupakan salah satu kerajaan yang paling tua. Arkeolog dari Pusat Balai Penelitian Arkeologi dan Purbakala, menuliskan, dari hasil penelitiannya mengambil kesimpulan Kerajaan tersebut, merupakan salah satu kerajaan tua di wilayah timur Indonesia.




Dalam catatan sejarah, sebelum berdirinya kerajaan di daerah ini, sudah ada yang tinggal dengan beberapa kepala suku yang sering disebut sebagai “Ncuhi” (Raja kecil).
Di waktu itu ada empat orang Ncuhi yang berkuasa, di antaranya:
Ncuhi Hu`u yang memerintah di daerah Hu`u (sekarang kecamatan Hu`u) 
Ncuhi Soneo yang memerintah di daerah Soneo dan sekitarnya (sekarang kecamatan Woja dan Dompu). 
Ncuhi Nowa yang memerintah di Nowa dan sekitarnya. 
Ncuhi Tonda yang memerintah di Tonda (sekarang wilayah desa Riwo kecamatan Woja Dompu). 
Di antara keempat suku atau Ncuhi tersebut yang paling terkenal adalah Ncuhi Hu`u.


Penduduk yang tinggal ini sebagian besar beragama Islam. selain itu ada sebagian kecil penduduk yang memeluk agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu serta Budha.
Para ulama bagi masyarakat suku Dompu, adalah golongan masyarakat yang dianggap terhormat serta terpandang, selain itu ada juga golongan masyarakat yang terdidik serta memiliki ekonomi yang baik juga dianggap sebagai orang terhormat.


Masyarakat ini mempunyai bangunan rumah tradisional, adalah Uma Jompa serta Uma Panggu. Uma Jompa dimanfaatkan sebagai lumbung padi. Sebenarnya Uma Jompa ini tidak hanya suku Dompu saja yang memilikinya, penduduk Bima juga mempunyai Uma Jompa dan bahkan lebih banyak dari yang ada di wilayah tersebut.
Sedangkan untuk Uma Panggu, rumah yang di bangun dari kayu atau papan, dengan berbentuk panggung. Uma panggu dapat dibedakan dengan jenis konstruksinya, Uma Ceko adalah merupakan rumah asli serta Uma Pa’a Sakolo yang dibawa penduduk migran Bugis yang dibangun di daerah pesisir


Kerajinan budaya, yang terkenal, ialah kain tenun Muna, merupakan kain songket Dompu. kain songket ini biasanya dikerjakan oleh para perempuan. Kain tenun ini sudah terkenal karena keindahan serta kehalusan kainnya.


Mata pencaharian, Pada umumnya hidup dengan bertani. Tanaman padi yang ditanam di sawah merupakan tanaman penting serta utama bagi mereka. Mereka juga menanam berbagai tanaman lain, di antaranya sayuran, buah-buahan serta beberapa tanaman keras di kebun milik mereka seperti singkong,ubi dan lainya. Di Sektor perikan juga menjadi kegiatan mereka. Kegiatan lainya adalah sebagai pedagang serta menjadi pegawai negeri sampai sekarang.

Monday, May 22, 2017

ASAL USUL SUKU TRUNYAN BALI








ASAL USUL SUKU TRUNYAN BALI - Masyarakat Desa Trunyan, Kabupaten Bangli, Bali mempunyai tradisi yang sangat unik dan sekaligus cukup menyeramkan. sebab tidak seperti masyarakat Hindu lainnya yang melakukan ngaben (upacara pembakatan manyat), masyarakat Desa Trunyan justru hanya meletakkan jenazah diatas tanah pada pemakaman Trunyan.


Kita bisa membayangkan, bagaimana bau busuk yang terjadi dari jenazah itu. Tetapi jangan salah, disini justru tidak akan mencium bau busuk dari jenazah jenazah tersebut. sebab di pemakaman Desa Trunyan terdapat sebuah pohon besar yang bernama Taru Menyan yang tumbuh subur dan lebat di depan pintu masuk pemakaman. Pohon ini dipercaya dapat menghilangkan bau busuk yang diakibatkan oleh jenazah tersebut. Dulu, pohon ini juga menjadi sebab asal usul sebuah desa bernama Trunyan.


Menurut Cerita, pohon Taru Menyan ini konon baunya sampai tercium hingga Keraton Solo yang jaraknya beratu-ratus kilometer dari Bali. Sebab bau wangi itulah, empat bersaudara dari Keraton Solo mencoba untuk mencari sumber bau itu. Sampai empat bersaudara tadi yang terdiri dari satu perempuan dan tiga anak laki-laki itu dengan rela mengarungi daratan sampai ganasnya lautan agar bisa menemukan sumber bau tersebut. Pada waktunya mereka sampai di Desa Trunyan serta menemukan sumber bau yang sangat harum tersebut. Dimana bau yang harum itu bersumber dari pohon besar yang bernama Taru Menyan.






Di saat setelah menemukan sumber bau wangi tadi, kakak sulung dari empat bersaudara itu malah jatuh cinta kepada seorang Dewi yang menjadi penunggu pohon Taru Menyan. Tidak menunggu lama, kakak sulung tadi akhirnya menikah dengan sang Dewi. Dan setelah menikah, terbangunya sebuah kerajaan kecil yang letaknya persis ditepi danau Batur, tempat pohon tadi tumbuh. Walaupun sang Dewi telah menikah, tetapi pohon Taru Menyan masih terus mengeluarkan bau yang sangat harum. Karena takut diserang oleh kerajaan lain karena bau semerbak dari pohon Taru Menyan, maka sang Raja memerintahkan penduduk kerajaan untuk menghilangkan bau wangi tersebut dengan cara meletakkan beberapa jenazah tepat dibawah pohon taru menyan tersebut. Cara ini ternyata sangat berhasil, sebab pohon Taru Menyan sudah tak mengeluarkan bau wangi serta jenazah yang diletakkan dibawah pohon itu juga tidak mengeluarkan bau busuk.


Sampai sekarang masyarakat Desa Trunyan masih melakukan pemakaman dengan cara meletakkan jenazah begitu saja dibawah pohon Taru Menyan. Namun yang dimakamkan di tempat tersebut hanyal orang yang berhati mulia

ASAL USUL SUKU BALI MAJAPAHIT







ASAL USUL SUKU MAJAPAHIT BALI - Suku Bali merupakan suku bangsa yang berada di pulau Bali, dengan bahasa Bali serta mengikuti budaya Bali. Masayrakat Suku Bali sebagian besar beragama Hindu. Dan lainya beragama Budha, Islam serta Kristen.

Suku Bali Majapahit, merupakan pendatang dari daerah Jawa (kerajaan Majapahit yang beragama Hindu) yang bermukim disebagian besar pulau Bali, khususnya didataran rendah sesuai keahlianya sebagai petani.

Mata pencaharian suku Bali Majapahit ialah bercocok tanam. Mereka mempunyai Ikatan solidaritas antara sesama anggota satu subak (satu sumber air yang sama) terbukti saat rapat subak atau pada saat upacara keagamaan khusus, dan juga ikatan dadia. Dadia biasanya menempati di dalam kompleks rumah yang dibangun tembok sekitar 2m dengan sebuah pintu masuk yang dihiasi gapura serta anak tangga. Dan di dalamnya terdapat kuil tempat pemujaan keluarga.

Solidaritas ikatan lain didasarkan pada ikatan keagamaan penduduk Bali yaitu Hindu Bali. Ada juga ikatan berdasarkan aktivitas, mata pencaharian serta ikatan antara warga kasta.

Penduduk mataram kuno ialah orang melayu. Yang bermukim di pulau jawa yang disebut dengan orang jawa. penduduk jawa berkulit sawo matang, bermata lebar serta berambut hitam. Mempunyai sifat yang tenang, sopan serta hati-hati. Orang india menyebut pulau jawa dengan sebutan javadvipa atau yavabhumi, di dalam bahasa sanskerta kata “yawa” artinya tanaman sejenis gandum. Memang, kerajaan mataram kuno dikenal dengan penghasil beras utama sebab penduduk mataram kuno mempunyai teknologi menanam padi yang sangat canggih pada zamanya.




Penduduk mataram kuno sangat pintar serta kreatif, mereka tidak meniru mentah-mentah ilmu yang yang di dapat dari india. Mereka meniru agama dari india akan tetapi membangun tempat ibadah (candi) dengan ornamen dan hiasan yang berbeda. Huruf pallawa india dimodifikasi menjadi huruf jawa. Bahasa jawa kuno juga ditambahi dengan kosa kata dari bahasa sanskerta yang pada waktu itu menjadi bahasa internasional. Huruf serta bahasa jawa kuno itu masih dipakai terus sampai jaman Majapahit. Pada zaman Mataram islam, huruf jawa masih dipakai di dalam kerajaan contohnya dalam menulis buku-buku sastra, tetapi bahasanya sudah memakai bahasa jawa baru.

Mengapa lontar di bali memakai huruf jawa dan bukan memakai huruf bali? ternyata, penduduk bali itu masih keturunan penduduk Majapahit. Kala itu, waktu Majapahit runtuh penduduk yang masih tetap berpegang teguh pada agama hindu bermigrasi ke Bali dan sampai mempunyai keturunan pada saat ini. Makanya lontarnya juga memakai huruf jawa. Penduduk Bali tercatat silsilahnya di lontar. Menurut silsilah, ada pada generasi ke 15 semenjak runtuhnya Majapahit. Penduduk bali serta jawa asalnya sama dari Majapahit. Bahasanya juga masih mirip, hanya logatnya yang berbeda. Jadi masih ada hubungan yang kental.

Menurut legenda, brawijaya V mempunya 100 anak, yang 9 meninggal. Sebelum keruntuhan Majapahit, sebagian keluarga kerajaan memeluk agama islam, selebihnya masih memeluk agama semula. Sabdopalon serta Nayagenggong sangat menentang dengan kepindahan agama sang raja. Ketika sampai akhirnya Majapahit dinyatakan runtuh, keluarga kerajaan menjadi cerai-berai, sebagian mengungsi ke jawa tengah, ada juga yang ke jawa timur. Ada 8 anak raja yang lari ke Bali, yang diikuti banyak Abdidalem serta Kawuladalem. Di Bali masih jadi raja, dan menurunkan para wali negeri se-Bali. Pada Akhirnya keturunan majapahit berkembang, dan penduduk yang masih penduduk asli bali tinggal di kawasan lain di dekat danau batur.

ASAL USUL SUKU NYAMA SELAM BALI










ASAL USUL SUKU NYAMA SELAM - Nyama Selam, Adalah sebutan untuk mereka umat muslim yang sudah mengintroduksikan budaya Bali dalam keseharianya. Dalam bahasa Bali, nyama artinya saudara serta Selam artinya Islam. Jadi mereka ialah sudara kita (Orang Bali) yang beragama Islam. Nyama selam memang sudah diakui sebagai etnis yang telah mendiami di pulau seribu Pura. Sementara dia menyebut kita (Orang Bali yang Beragam Hindu) sebagai Nyama Bali. Dari penggunaan istilah tadi jelas bahwa sesungguhnya kita merupakan saudara tetapi dalam beberapa hal memiliki perbedaan. Yang membedakan jelas yaitu Agama.

Desa Pegayaman merupakan contoh masayrakat Nyama Selam yang berada Buleleng. Desa ini terletak di dataran tinggi. Sekitar 65 Km dari Kota Denpasar atau sekitar 9 Km dari kota Singaraja. Jalan menuju desa ini adalah jalan raya Singaraja- Denpasar yang mudah menemukannya. Desa yang terkenal dengan hasil perkebunan cengkehnya. Desa ini mempunyai 5 dusun atau Banjar yaitu Banjar Dauh Margi, Dangin Margi, Kubu, Kubu Lebah serta Amerta Sari.

Masyarakat Pegayaman. Mempunyai bentuk fisik dan bahasa yang sama menjadikan kita susah untuk membedakan mereka dengan orang Bali. Bedanya ialah mereka menggunakan jilbab atau peci jika keluar dari desa. Sejarah mencatat, mereka adalah campuran dari 3 etnis yang berbeda diantarnya Bali, Jawa serta Bugis. Sejarah mereka berawal pada masa pemerintahan KI Barak Panji Sakti dari kerajaan Buleleng di abad ke 16. Dengan pasukan Goaknya, Ki Barak Panji Sakti berhasil Mengepung Kerajaan Blambangan di Jawa Timur. Kabar kemenangan itu tersebar luas sampai ke kerajaan Mataram di kala itu di perintah oleh Dalem Solo. 

Untuk menghindari peperangan lebih lanjut, mereka akhirnya sepakat untuk melakukan genjatan senjata. Berikutnya, Dalem Solo menghadiahi seekor Gajah beserta 8 patih dari kerajaan Mataram yang sudah beragama Islam untuk mengiringi Ki Barak Panji Sakti bertolak ke Bali.

Setelah sampai di Bali, para Patih tadi ditempatkan di sebuah tempat yang dikenal Banjar Jawa. Mereka mempunyai tugas untuk membantu kerajaan Buleleng dalam menghadapi lawan. Ketika kerajaan Mengwi Tabanan menyerang, merekalah yang memimpin pasuka dibantu oleh pasukan Teruna Goak. Pasukan Mengwi berhasil digempur Mundur hingga ke Desa Benyah atau yang di kenal Desa Pancasari sampai ke Desa Taman Tanda, Baturiti. Atas jasanya, para Patih dihadiahi tanah di perbatasan Buleleng- Tabanan serta dipersilahkan membuka lahan seluas – luasnya. Tempat tersebut dikenal sangat angker.

Dengan keberanian dan kemampuan para patih, mereka berhasil membangun sebuah desa di lereng bukit itu. Salah satu patih juga dihadiahi dengan seorang Gadis keturunan Raja Buleleng. Di sinilah mulai terjadi percampuran Budaya antara jawa (Islam) dan Bali (Hindu).



Sekitar tahun 1850an, Kapal ekspedisi Raja Hasanudin dari Sulawesi  menuju Jawa dan Madura terdampar di perairan Buleleng. Sekitar 40 pasukan Bugis menghadap dengan baik – baik ke Raja Ki Barak Panji Sakti. Dan mereka disambut hangat oleh raja serta diberikan kebebasan dalam memilih tempat tinggal di pesisir atau di desa pegayaman mengingat mereka beragama Islam. Sekelompok masyarakat memilih di pesisir sebab orang Bugis dikenal sebagai penjelajah laut dan sekelompok lagi memilih bergabung dengan orang Pegayaman dengan alasan Agama. Itulah asal usul mereka berasal dari 3 suku yaitu Jawa, Bali dan Bugis.

Karakter ketiga etnis tersebut masih ada masayarakat orang Pegayaman. Jawa yang lembut, sopan,serta bertaninya, Bali dengan adat dan rangkaian upacaranya serta Bugis dengan karakter kerasnya.

Asal – usul nama desa, terdapat dua versi untuk referensi. Yaitu berasal dari kata Gayam (bahasa Jawa) sejenis tumbuhan yang buahnya bisa di konsumsi. Bahasa Bali menyebut buah gatep. Dulu sebelum dijadikan pemukiman, banyak ditemukan pohon Gatep atau Gayam sehingga disebut desa Pegayaman. Yang selanjutnya berasal dari Keraton Surakarta, Solo. yaitu dengan adanya sebuah keris yang bernama Gayam. Yang menandakan bahwa orang Pegayaman adalah kerabat dari Keraton Solo. Pihak Keraton Solo mengakui melalui ekspedisi sejarah Pegayaman pada tahun 2007. Yang  difasilitasi oleh Puri Buleleng.

Percampuran budaya Islam – Sudah terjadi semenjak pertama kali berdirinya desa ini di abad 16. Di mulai dari perkawinan campuaran antara orang Pegayaman dengan orang Bali. Contohnya saja dalam bahasa, yang menggunakan bahasa Bali serta mengenal Sor singgih Basa Bali. 

Untuk memberi nama, layaknya orang Bali mereka juga melekatkan Wayan bagi anak pertama, Nengah bagi anak kedua, Nyoman bagi anak ketiga serta Ketut bagi anak keempat . Hanya saja tidak ada Wayan, Nengah atau Nyoman tagel  atau yang kedua. Nama mereka hanya berakhir pada Ketut. Untuk anak ke lima, dan seterusnya tetap menggunakan nama Ketut. 

Dalam hal hari besar Islam, juga masih menggunakan rangkaian kegiatan seperti orang bali. Seperti pada hari Maulid Nabi menyebutnya dengan muludan,  perayaannya juga mirip dengan upacara Piodalan pada penduduk Hindu. Perayaanya bisa sampai sebulan penuh sebagai puncak acara mengarak sokok base seperti gebogan lengkap dengan daun, buah serta bunganya. Arak – arakan dilakukan sepanjang desa. Rangkaian budaya Bali nya dimulai dari Penapean, Penyajaan, Penampahan Lebaran dan Umanis Lebaran pada perayakan lebaran


Sunday, May 21, 2017

ASAL USUL SUKU LOLOAN BALI









ASAL USUL SUKU LOLOAN BALI - Suku Loloan, Berikut kutipan buku karya dari I Wayan Reken yang berjudul “Sejarah Perkembangan Islam di Bali khususnya di Kabupaten Jembrana


“…orang Bugis/Makassar tersebut pertama kali memperkenalkan ajaran-ajaran agaIslam kepada masyarakat jembrana yang beragama Hindu Bali. Seiring dengan waktu, maka semakin kuat persatuan di antara kedua belah pihak, musli dan warga asli bali yang beragama Hindu bahkan tercatat ada juga seorang anggota keluarga I Gusti Ngurah Pancoran yang memasuki agama Islam. Menyusul kemudian beerapa penduduk dan wanita….”


Sal satu bukti bahwa orang-orang Melayu di Bali juga pernah singgah, yaitu di daerah Jembrana, terdapat sebuah perkampungan yang rumah-rumahnya tidak memiliki pura, seperti rumah kebanyakan masyarakat di Bali. Rumah-rumah tersebut merupakan sebuah rumah panggung, ciri khas dari perumahan penduduk Melayu. Kampung Loloan merupakan sebuah perkampungan wrga Melayu, ditempati suku Melayu yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar pergaulan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun kampung itu berada di wilayah Bali. Penduduk kampung ini adalah keturunan para penyebar agama Islam di Bali. Unik memang, Bali yang terkenal dengan Hindhu-nya bahkan dijumpai sekelompok penduduk yang selalu menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari. Tidak hanya itu saja, pakaian, bentuk rumah, serta tata cara adat pun masih merujuk pada akar rumput kebudayaan Melayu. Jumlah penduduk Melayu Muslim yang berada di Loloan, terdiri dari dua kecamatan yaitu Loloan Timur serta Loloan Barat, Diperkirakan sekitar 15.000 jiwa, dari sekitar 42.000 Muslim yang bermukim di Kabupaten Jembrana. Pendapat H. Mustafa Al-Qadri, merupakan sesepuh Melayu yang berada di kampung Loloan Barat, masyarakat Melayu yang berada di Loloan berasal dari beberapa daerah diantaranya Bugis, Kalimantan dan Terengganu. Tetapi yang terbesar berasal dari wilayah Bugis.


Baca Juga : ASAL USUL SUKU BALI


Menurut buku kecil “Sejarah Masuknya Islam di Bali II”, di saat Makassar jatuh ke tangan VOC sekitar tahun 1667, Kolonial Belanda menjadikan keturunan Sultan Wajo di anggab sebagai musuh yang harus dihancurkan. Di bawah tekanan Belanda, rombongan laskar Sultan Wajo, yang dipimpin oleh Daeng Nahkoda melarikan diri dari tanah Sulawesi dan akhirnya tinggal di suatu tempat yang kemudian hari lebih dikenal dengan Kampung Bajo. Dengan izin I Gusti Ngurah Pancoran yang berkuasa saat itu di Jembrana, pelabuhan tempat mereka berlabuh diberi nama Bandar Pancoran, bekas pelabuhan tua tersebut terletak di bagian barat Loloan. Semenjak itu, semakin banyak orang-orang Bugis datang ke Jembrana dengan menggunakan perahu Pinisi serta Lambo. Selain penduduk Bugis, dua ratus tahun berikutnya ialah pada abad ke-18 masehi, juga datang rombongan masyarakat Melayu Pontianak yang dipimpin oleh Syarif Abdullah bin Yahya Al-Qadry. Di dalam rombongan Syarif Abdullah Yahya al-Qadri tersebut terdapat pula masyarakat Melayu dari Terengganu yang bernama Ya`qub, dan kemudian menikah dengan penduduk Melayu tempatan.


Ya`qub inilah yang tertulis dalam Prasasti Melayu yang tersimpan di Masjid Agung Baitul Qadim, Loloan Timur, menurut salah seorang takmir Masjid Agung Baitul Qadim, H. Fathurrahim, dibangun pada tahun 1600-an masehi. Di pelataran masjid itu pula Ya`qub dimakamkan. Dan prasasti itu berbunyi :


“Satu Dzulqa`dah 1268 H, hari Itsnin. Encik Ya`qub orang Terengganu mewaqafkan akan barang istrinya serta mewaqafkan dengan segala warisnya yaitu al-Qur`an dan sawah satu tebih (petak) di Mertosari. Perolehannya 40 siba` (ikat) dalam Masjid Jembrana di Kampung Loloan ketika Pak Mahbubah menjadi penghulu dan Pak Mustika menjadi Perbekel. Saksi: Syarif Abdullah bin Yahya al-Qadri dan Khatib Abdul Hamid”

Selain bukti di atas, ada juga pendapat tentang kedatangan masyarakat Bugis di Bali sekitar tahun tersebut. Menurut informasinya, ulama-ulama yang berasal dari Negeri Kucing serta Serawak. Yang sekarang berada di Malaysia Timur, juga ikut berdatangan ke Loloan. Setelahnya, juga datang seorang muballigh bernama Syech Ahmad Bawazir dari Yaman. mereka  mengajarkan agama Islam kepada warga Loloan dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, yang sesuai dengan bahasa pengantar di Loloan pada saat itu. Itulah yang selanjutnya membuat bahasa Bugis lambat laun semakin tersisih, pada akhirnya hanya bahasa Melayu yang digunakan di Loloan.


Kekuatan budaya Melayu di Bali semakin kuat serta bertambah kokoh setelah generasi-generasi muda Loloan mulai dikirim untuk belajar dan berguru hingga ke Mekkah. Bahkan, di antara mereka ada yang menetap di Mekkah hingga 30 tahun, misalnya H. Agus Salam, H. Muhammad Said, dan HM. Asad, serta KH. Abdurrahman yang pernah mondok di sekitar Masjid al-Haram sebelum Wahabi mulai masuk ke Arab. Sepulang dari jazirah Arab, mereka kemudian membangun pesantren-pesantren di Loloan. Penduduk Melayu Islam di Loloan pada saat itu mudah diterima oleh penguasa Bali, bahkan tidak berlebihan jika disebut, sangat akrab!. Hal ini tidak terlepas dari kesediaan para Muslim Jembrana untuk ikut memperkokoh armada kerajaan-kerajaan Hindu Bali. Setiap kali ada serangan dari kerajaan lain, warga Jembrana dari penduduk Muslim ikut membantu. Untuk balas jasanya, mereka diberikan hadiah tanah seluas 200 hektare untuk pemukiman khas bagi masyarakat Melayu, jelas H. Ahmad Damanhuri, sesepuh dari Melayu Loloan. Pada saat itu juga, dibuat sebuah perjanjian tak tertulis tentang penggunaan bahasa: bahasa Bali dipakai dari daerah Air Kuning ke arah timur; sedangkan bahasa Melayu dipakai mulai dari Jembrana sampai ke daerah Melaya. Meskipun demikian, pada kenyataannya tak sekaku perjanjian itu. Sekarang, setelah 500 tahun berselang, terdapat pula unsur bahasa Bali yang terserap dalam kosakata Melayu yang dipergunakan oleh penduduk Loloan. Dan sebab itu, tidak salah jika mereka menyebut dirinya sebagai penduduk Melayu Bali.


Seperti orang Melayu kebanyakan, Masyarakat Melayu Bali di Loloan juga suka berpantun. Tetapi hanya generasi tua saja yang masih piawai dan pandai unutk mengucapkannya. Dilihat segi arsitektur bangunan, kesan Bugis juga sangat terlihat untuk desain bangunan rumah-rumah asli penduduk Melayu Loloan, khususnya di daerah sekitar Masjid Al-Qadim. Terdapat pula, simbol keislaman seperti tulisan Allah serta Muhammad pada dinding rumah-rumah penduduk Jembrana. Simbol inilah yang membuat Loloan terlihat seperti bukan di Bali yang lebih dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Pura itu.

Saturday, May 20, 2017

ASAL USUL SUKU BALI








ASAL USUL SUKU BALI - Suku Bali yang merupakan Orang Bali sebagian besar bermukim di pulau Bali serta memiliki bahasa sendiri. Suku bali juga tersebar diseluruh nusantara Indonesia. Mereka mempunyai nilai kebudayaan yang sangat tinggi serta kebudayaan mereka itu banyak menarik perhatian turis-turis asing, Dan eksotis pulau Bali sudah terkenal di penjuru mancanegara.


Sejarah Suku Bali
Ada yang berpendapat bahwa suku asli Bali adalah suku Aga yang merupakan salah satu subsuku bangsa Bali yang berada di Desa Trunyan. Penduduk Bali Aga dianggap sebagai orang gunung yang bodoh. Sebab masyarakatnya berada di pegunungan yang sangat terpencil serta pedalaman dan belum sempat terjamah dengan teknologi sama sekali.

Masyarakat asli suku Bali Aga berada di pegunungan sebab penduduknya menutup diri dengan pendatang yang disebut dengan Bali Hindu, yaitu masyarakat keturunan Majapahit. Masyarakatnya juga menganggap bahwa daeraH pegunungan merupakan tempat suci sebab daerah tersebut terdapat banyak sekali puri serta kuil yang dianggap suci oleh penduduk Bali.

Disamping suku Aga, terdapat pula suku Bali Majapahit. Suku ini berasal dari para pendatang Jawa yang sebagian besar menetap di Pulau Bali khususnya yang berada di daerah dataran rendah. Masyarakat ini berasal dari Jawa oleh kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu. Mata pencaharian masyarakat ini adalah bercocok tanam. Dan juga menjadi salah satu pengaruh dari sejarah suku Bali.

Pendapat lain menyatakan jika, asal-usul suku Bali terbagi ke dalam tiga periode atau gelombang migrasi yaitu:
Migrasi pertama terjadi akibat dari pernyebaran penduduk yang berada di Nusantara selama zaman prasejarah
Migrasi kedua terjadi dengan perlahan selama masa perkembangan agama Hindu di Nusantara
Migrasi ketiga adalah gelombang terakhir dari Jawa, kala Majapahit runtuh di abad ke-15 seiring dengan
Islamisasi masyarakat Jawa sejumlah penduduk Majapahit memilih dengan melestarikan kebudayaannya di Bali, yang terbentuk sinkretisme antara kebudayaan Jawa klasik dengan tradisi asli Bali.

Baca Juga : ASAL USUL SUKU ACEH


Kebudayaan Dan Kesenian Suku Bali
Kebudayaan dan kesenian di Bali menjadikan bali memiliki daya tarik yang kuat untuk para wisatawan yang datang ke daerah tersebut. 

Berikut kebudayaan dan kesenian yang ada di Bali.
1. Pakaian adat Bali
Bali memiliki banyak macam atau ragam dari pakaian adatnya. Seperti perempuan yang masih remaja memakai sanggul gonjer, sedangkan perempuan atau wanita dewasa memakai sanggul tagel, dengan memakai sesentang atau kemben songket, Kain wastra, Sabuk prada (stagen) yang membelit pinggul serta dada, Selendang songket bahu ke bawah, Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam, Beragam ornamen perhiasan, Dengan memakai kebaya, kain penutup dada, serta alas kaki sebagai pelengkap. Sedangkan pria memakai ikat kepala atau udeg lalu memakai selendang pengikat atau umpal, kain kampuh, kain wastra, keris, sabuk, kemeja atau jas, serta ornament yang dipakai untuk menghiasi penampilan sang pria

2. Rumah adat Bali
Rumah adat Bali harus berdasarkan dengan aturan Asta Kosala Kosali ajaran pada kitab suci Weda yang mengatur tentang tata letak sebuah bangunan yang sama dengan ilmu Feng Shui di ajaran Budaya China. Rumah adat Bali harus terpenuhi aspek pawongan (manusia / penghuni rumah), pelemahan (lokasi / lingkungan) serta parahyangan.

Pada dasarnya rumah Bali di penuhi berbagai pernak-pernik hiasan, ukiran dengan warna alami dan patung-patung symbol ritual. Bangunan Rumah Adat Bali terpisah-pisah dengan banyak bangunan-bangunan kecil dalam satu area yang dipersatukan oleh pagar yang mengelilinginya. Seiring perkembangan zaman mulai terdapat perubahan untuk bangunan dimana bangunannya tidak lagi terpisah-pisah.


3. Tari Bali
Berikut beberapa jenis tarian yang ada di bali :
Tari Pendet, ini ditarikan sebagai simbul tari selamat datang untuk menyambut kedatangan para tamu serta undangan dengan menaburkan bunga, serta ekspresi penarinya penuh dengan senyuman manis. Pada awalnya tarian ini dipakai untuk acara ibadah di pura sebagai bentuk penyambutan dewa yang turun ke bumi.

Tarian panji semirang,yang di mainkan para perempuan. Tari Panji Semirang merupakan tarian yang menggambarkan seorang putri raja bernama Galuh Candrakirana, dengan menyamar jadi seorang laki-laki setelah kehilangan suaminya. Dalam peejalananya dia mengganti namanya dengan sebutan Raden Panji.

Tari Condong, adalah tarian yang cukup susah untuk dimainkan dan tarian ini mempunyai waktu yang sangat panjang. Tarian ini adalah tarian klasik Bali yang mempunyai gerakan yang kompleks dengan menggambarkan seorang abdi Raja

Tari Kecak,merupakan jenis tarian yang sangat terkenal dari Bali. Tarian ini dimainkan oleh puluhan laki-laki dengan duduk melingkar. Tarian ini menggambarkan kisah seorang Ramayana di saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Nada tari Kecak sendiri diambil dari ritual tarian sanghyang yakni tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dengan menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.


4. Alat Musik Suku Bali
Berikut beberapa alat musik tradisional yang khas peninggalan leluhur secara turun temurun :

Gamelan Bali, Banyak daerah lain di Indonesia yang memiliki alat musik gamelan, Begitu juga Bali memiliki alat musik gamelan. Akan tetapi gamelan Bali memiliki perbedaan dengan gamelan daerah lain yang paling menonjol ialah ritme yang dimainkan pada gamelan Bali berjenis ritme yang cepat.

Rindik, merupakan alat musik khas Bali yang terbuat dari bambu bernada selendro. Alat musik ini dimainkan dengan 2 sampai 4 orang, 2 orang menabuh rindik sisanya meniup seruling. Alat musik ini biasanya untuk pementasan tarian jogged bumbung serta sebagai acara pernikahan.


5. Tradisi Kebudayaan Suku Bali
Masyarakat Bali hidup dengan memeluk agama Hindu dan tidak terpengaruh oleh masyarakat lain yang tinggal di Bali yang tidak memeluk agama Hindu. Berikut acar adat upacara yang biasa di lakukan oleh orang bali diantarnya :

Pernikahan, Dalam acara pernikahan ada beberapa upacara adat yang harus dilalui diantaranya :
Upacara ngekeb, Yang bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri serta ibu rumah tangga untuk memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasanganya untuk diberikan anugerah berupa keturunan yang baik

Mungkah Lawang (Buka Pintu), Merupakan adat untuk mengetuk pintu pengantin wanita sebanyak tiga kali, sebagai tanda bahwa pengantin pria telah datang untuk menjemput pengantin wanita serta memohon supaya segera dibukakan pintu

Madengen dengan, Upacara untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. Upacara ini dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian

Mewidhi Widana, Upacara ini adalah acara penyempurnaan pernikahan adat bali dalam meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan saat acara sebelumnya. Selanjutnya keduanya menuju merajan adalah tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa.

Mejauman Ngabe Tipat Bantal, Setelah beberapa hari menikah, upacara ini baru dilaksanakan. Untuk memohon pamit kepada kedua orang tua dan sanak keluarga pengantin wanita, terutama pada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian hidup dalam keluarga besar suaminya

Upacara Potong gigi, Acara ini wajib dilalui oleh para laki-laki serta wanita yang sudah beranjak dewasa dengan di tandai datangnya menstruasi bagi wanita serta membesarnya suara bagi laki-laki. Potong gigi bukan berarti giginya yang dipotong, melainkan hanya merapikan atau mengikir enam gigi rahang atas, dengan empat gigi seri serta dua taring kiri dan kanan yang dipercaya dapat menghilangkan enam sifat buruk yang melekat pada diri seseorang, diantranya kama (hawa nafsu), loba (tamak), krodha (amarah), mada (mabuk), moha (bingung), dan matsarya (iri hati atau dengki).

Upacara Kematian, Penduduk Bali selalu mengadakan upacara kematian pada saat ada seseorang atau kerabat yang meninggal dunia. Upacara  ini dikenal sebagai upacara ngaben. Yaitu upacara pembakaran bagi orang yang sudah meninggal. Pada dasarnya upacara ini untuk  mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda menyatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep tadi dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa selaku Dewa yang dipercaya penduduk atau umat hindu khususnya masyarakat hindu Bali


Sistem Kepercayaan Suku Bali
Mayoritas masyarakat Bali menganut kepercayaan Hindu Siwa-Buddha, salah satu denominasi agama Hindu. Ajaran ini dibawa oleh pendeta dari India yang berkelana di Nusantara serta kemudian memperkenalkan sastra Hindu-Buddha kepada suku Bali berabad-abad tahun silam. Penduduk menerimanya serta mengkombinasikan dengan mitologi pra-Hindu yang dipercyai mereka. Suku Bali yang sudah ada sebelum gelombang migrasi ketiga, yang dikenal dengan Bali Aga, sebagian besar menganut agama yang berbeda dari suku Bali. Masyarakatnya mempertahankan tradisi animisme.

Suku Bali Hindu percaya adanya satu Tuhan dengan konsep Trimurti yang terdiri atas tiga wujud, diantaranya :
Brahmana : menciptakan, Wisnu : yang memelihara, Siwa : yang merusak.

Selain itu ada juga yang dianggap penting diantarnya :
Atman : roh yang abadi, Karmapala : buah dari setiap perbuatan, Purnabawa : kelahiran kembali jiwa.

Tempat ibadah agama Hindu disebut pura. Yang memiliki sifat berbeda, diantarnya :
Pura Besakih: sifatnya umum untuk semua golongan, Pura Desa (kayangan tiga): khusus untuk kelompok sosial setempat, Sanggah: khusus untuk leluhur.


Sistem Kekerabatan Suku Bali
Perkawinan suku bali dahulu ditentukan oleh kasta. Dimana wanita dari kasta tinggi tidak boleh kawin dengan laki-laki kasta rendah. Tetapi seiring perkembangan zaman, sisitem ini tidak berlaku lagi. Perkawinan yang dianggap pantang ialah perkawinan saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri (mak dengan ngad). Perkawinan itu akan mengakibatkan bencana (panes).

Ada dua cara untuk mendapatkan istri berdasarkan adat diantaranya :
memadik, ngindih: dengan cara meminang keluarga gadis dan mrangkat, ngrorod: dengan cara melarikan seorang gadis.


Bahasa Suku Bali
Dalam kehidupan sehari-ahri suku Bali mengggunakan bahasa Bali serta bahasa Indonesia, sebagian besar penduduk Bali ialah bilingual dan bahkan trilingual. Bahasa Inggris merupakan bahasa ketiga serta bahasa asing utama untuk masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. 

Bali mempunyai bahasa asli di antarnya :
Bahasa Aga adalah bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, Dan bahasa Bali Mojopahit ialah bahasa yang pengucapannya lebih halus


Makanan Khas Bali
Ciri khas makanan orang Bali yang sangat paling terkenal adalah Ayam Betutu. Merupakan lauk yang terbuat dari ayam atau bebek yang utuh dengan berisi bumbu, dan dipanggang dalam api sekam. Betutu sendiri sudah terkenal di seluruh kabupaten di Bali. 

Ayam betutu juga menjadi makanan khas masyarakat Gilimanuk. Betutu digunakan sebagai sajian saat upacara keagamaan serta upacara adat dan sebagai hidangan sebagian masyarakat juga menjualnya. Peminatnya tidak hanya masyarakat Bali namun tamu mancanegara yang datang ke Bali, khususnya pada tempat-tempat tertentu seperti di hotel serta rumah makan atau restoran.


Kerajinan Khas Bali
Bali mempunyai kerajinan tangan yang dibuat oleh masyarakat, seperti kerajinan tangan membuat tas anyaman, ukiran bali berupa pajangan ataupun untuk pintu, kerajinan tangan yang terbuat dari perak maupun kaca, topeng kayu asal Bali, pernak pernik accessories Bali serta masih banyak lagi.