Tuesday, May 16, 2017

ASAL USUL SUKU ANEUK JAMEE ACEH









ASAL USUL SUKU ANEUK JAMEE - Suku Aneuk Jamee adalah etnis yang bermukim di sepanjang pesisir barat Aceh mulai dari Singkil, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya dan Simeulue. Aneuk jamme adalah perantau Minangkabau yang bermigrasi ke Aceh dan telah berakulturasi dengan Suku Aceh.


Pengertian Aneuk Jamee

Kata "Aneuk Jamee" berasal dari Bahasa Aceh yang berarti "anak tamu", "anak yang berkunjung" atau "pendatang baru". Identitas ini digunakan untuk menggambarkan orang-orang Minang yang berasal dari Lubuk Sikaping, Pariaman, Rao, dan Pasaman yang telah bermigrasi di daerah tersebut pada abad ke-17.

Kurun waktu, mereka berbaur dengan orang-orang Aceh yang ada di daerah tersebut. Pembauran meraka dipermudah oleh kepercayaan Islam yang umum. Tapi, pada akhirnya mereka merasa bahwa dirinya bukanlah orang Aceh maupun orang Minangkabau, akan tetapi penduduk baru yang memiliki budaya dan bahasa sendiri.


Sejarah

Dulu kala migrasi masyarakat Minang ke pesisir barat Aceh telah berlangsung sejak abad ke-16. Begitu banyak saudagar Minang yang melakukan perdagangan dengan Kesultanan Aceh. Mereka juga memperdalam ilmu agama di Aceh. Salah satunya yang bernama Syeikh Burhanuddin Ulakan, seorang ulama berasal dari Ulakan, Pariaman, Sumatera Barat yang  menimba ilmu di Aceh kepada Syekh Abdurrauf Singkil dari Singkil, Aceh, dan pernah menjadi murid serta penganut setia ajaran Syekh Ahmad al-Qusyasyi Madinah. Oleh Syekh Ahmad keduanya diberi kewenangan untuk menyebarkan ajaran Islam di daerahnya masing-masing.

Gelombang migrasi selanjutnya terjadi pada masa Perang Paderi. Pada masa itu banyak dari penduduk Minang yang menghindar dari pergolakan dan penjajahan Hindia-Belanda.


Kebudayaan

Kebudayaan suku Aneuk Jamee merupakan kombinasi dari budaya Aceh dan Budaya Minangkabau. Terlihat dari tata cara dan perlengkapan adat pengantin wanita yang menambahkan sunting semacam (mahkota) di kepala dengan merujuk pada adat dari daerah Bukit Tinggi. Sementara pakaian adat pria tetap mengikuti pakaian adat Aceh.





Penyebaran

Suku ini banyak bermukim di kabupaten Aceh Selatan, sekitar 30 % populasinya. Sebagian kecil lainnya beetempat di kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Barat, Aceh Singkil dan Simeulue.

Bukti daerah penyebaran suku Aneuk Jamee:

1. Aceh Selatan, Kecamatan: Kemukiman Kandang (Kluet Selatan), Labuhan Haji, Labuhan Haji Timur, Sama Dua dan Tapak Tuan.

2. Aceh Barat Daya, Kecamatan: Susoh.

3. Aceh Barat, Pada dasarnya terkonsentrasi di beberapa desa dalam Kecamatan Meureubo (bercampur dengan Suku Aceh) yaitu desa Gunong Kleng, Peunaga, Meureubo, Ranto Panyang dan sekitarnya. Dan sebagian kecil mendiami Desa Padang Seurahet yang masuk dalam Kecamatan Johan Pahlawan. Umumnya yang disebut terakhir ini adalah keturunan pendatang yang berasal dari Kabupaten Aceh Selatan dan telah bermukim lama di Aceh Barat secara turun temurun.

4. Simeulue, Sinabang

5. Aceh Singkil, Kota Singkil, kecamatan Pulau Banyak (ada 3 desa, yaitu: Pulau Balai, Pulau Baguk dan Teluk Nibung)


Bahasa

Bahasa keseharian adalah Bahasa Minangkabau dengan dialek Aceh, atau yang dikenal dengan Bahasa Jamee. Bahasa Jamee adalah Bahasa Minangkabau yang telah menyerap beberapa unsur dan kosa kata Bahasa Aceh. Sekarang kebanyakan masyarakat Suku Aneuk Jamee, terutama yang bermukim di kawasan dengan dominasi Suku Aceh menggunakan Bahasa Aceh. Bahasa Jamee hanya digunakan di kalangan orang-orang tua saja dan saat ini mereka lebih lazim menggunakan Bahasa Aceh sebagai bahasa pergaulan sehari-hari (lingua franca).


Kepercayaan

Orang-orang Aneuk Jamee merupakan penganut agama Islam. Orang-orang Aneuk Jamee juga masih memiliki unsur kepercayaan sebelumnya yang tidak mudah terlupakan. Yaitu praktik perdukunan masih sering digunakan dalam berbagai keperluan


Adat Istiadat

Sistem kekerabatan yang dimiliki terdapat perpaduan antara budaya Minangkabau dan Aceh. Garis keturunan diperhitungkan berdasarkan pada prinsip bilateral, sedangkan adat menetap sesudah nikah adalah uxorilikal (tinggal dalam lingkungan keluarga pihak wanita). Kerabat pihak ayah mempunyai kedudukan yang kuat dalam hal pewarisan dan perwalian, sedangkan ninik mamak berasal dari kerabat pihak ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang disebut rumah tangga. Ayah berperan sebagai kepala keluarga yang mempunyai kewajiban memenuhi kebutuhan keluarganya. Tanggung jawab seorang ibu yang utama adalah mengasuh anak dan mengatur rumah tangga.


Sistem pemerintahan adat

Di suatu gampong (kampung atau desa) suku Aneuk Jamee dikepalai oleh seorang geucik atau kecik. Di setiap gampong ada sebuah meunasah (madrasah) yang dipimpin oleh seorang imeum meunasah. Kumpulan dari beberapa gampong disebut mukim yang dipimpin oleh seorang uleebalang, yaitu para panglima yang berjasa kepada sultan. Kehidupan sosial dan keagamaan pada setiap gampong dipimpin oleh pemuka-pemuka adat dan agama, seperti imeum meunasah, teungku khatib, tengku bile, dan tuha peut (penasehat adat).

No comments:

Post a Comment

Silahkan komentar dengan bijak sesuai pembahasan