Sunday, May 14, 2017

ASAL USUL SUKU BATAK





Asal usul Suku Batak - Pada zaman Perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola. Tetapi penyerangan Paderi atas wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat tersebut, yang terjadi akhirnya mereka menganut agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Kerajaan Aceh di utara, Banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo dan Pakpak. Untuk Simalungun sendiri banyak terkena pengaruh Islam dari masyarakat Melayu di pesisir Sumatera Timur.

Masuknya Kristen

Misionaris asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, dengan sebuah misi pengkristenan yang dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O. Voorma, terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa Batak.
Selanjutnya Misi Katolik oleh Pastor Misionaris pertama yakni Pastor Sybrandus van Rossum, OFM.Cap masuk ke pusat Tanah Batak, yaitu Balige tanggal 5 Desember 1934.

Masyarakat Toba dan sebagian Karo menyerap agama Kristen dengan cepat, dan pada awal abad ke-20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya.

Kepercayaan

Sebelum suku Batak Toba mengenal agama, mereka menganut kepercayaan religi tentang Mulajadi na Bolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.

Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak Toba mengenal tiga konsep, yaitu:

Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.

Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.

Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.

Salam Khas Batak

Salam Horas salah satu salam khas Suku Batak yang terkenal, namun ada dua salam lagi yang tidak populer di masyarakat yaitu Mejuah juah dan Njuah juah. Horas sendiri masih memiliki penyebutan masing masing berdasarkan puak yang menggunakannya

1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”
2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”
5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!”

Kekerabatan

Ada dua kekerabatan di suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada.

Kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan menurut sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.

Terdapat falsafah dalam perumpamaan bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. yang mempunyai filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena mereka adalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama kali dicari adalah yang satu marga, meskipun pada dasarnya tetangga tidak boleh terlupakan dalam pelaksanaan Adat.

Untuk soal perkawinan, adat suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan. Maka dari itu, jika ada yang menikah harus dapat mencari pasangan hidup dari marga lain. Apabila yang menikah adalah yang bukan dari suku Batak, maka mereka harus diadopsi oleh salah satu marga Batak (berbeda klan). Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi pernikahan yang dilakukan di gereja jika agama yang dianutnya adalah Kristen.

Falsafah dan sistem kemasyarakatan

Orang Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Dibawah penyebutan Dalihan Natolu menurut kelima puak Batak

1. Dalihan Na Tolu (Toba) • Somba Marhula-hula • Manat Mardongan Tubu • Elek Marboru

2. Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) • Hormat Marmora • Manat Markahanggi • Elek Maranak Boru

3. Tolu Sahundulan (Simalungun) • Martondong Ningon Hormat, Sombah • Marsanina Ningon Pakkei, Manat • Marboru Ningon Elek, Pakkei

4. Rakut Sitelu (Karo) • Nembah Man Kalimbubu • Mehamat Man Sembuyak • Nami-nami Man Anak Beru

5. Daliken Sitelu (Pakpak) • Sembah Merkula-kula • Manat Merdengan Tubuh • Elek Marberru

Hulahula/Mora merupakan pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak oleh semua sub-suku Batak.

Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama.

Boru/Anak Boru adalah keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru merupakan posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan, dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

Dari silsilah diatas, bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.

Sehingga dalam tata kekerabatan, seluruh masyarakat Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka disetiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raja no Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

Ritual kanibalisme

Berikut adalah beberapa dokumentasi mengenai praktik ritual kanibalisme pada kalangan suku Batak terdahulu.

1. Dalam memoir Marco Polo yang pernah datang berekspedisi dipesisir timur Sumatera dari bulan April sampai September 1292, bahwa ia berjumpa dengan orang yang menceritakan akan adanya masyarakyat pedalaman juga disebut sebagai "pemakan manusia". Untuk sumber-sumber sekunder, Marco Polo mencatat cerita ritual kanibalisme di antara masyarakat "Battas". Walau Marco Polo hanya tinggal di wilayah pesisir, dan belum pernah pergi langsung ke pedalaman untuk memverifikasi cerita tersebut, tetapi dia bisa menceritakan ritual tersebut.

2. Niccolò Da Conti (1395-1469), tahun 1421 tinggal di Sumatra, dalam perjalanan panjangnya untuk misi perdagangan di Asia Tenggara (1414-1439), mencatat kehidupan keseharian masyarakat. Dalam tulisanya singkat tentang penduduk Batak: "Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka ".

3. Thomas Stamford Raffles pada 1820 telah mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang-undang mengenai konsumsi daging manusia, dalam tulisanya secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan. Raffles menyatakan bahwa: "Suatu hal yang biasa dimana orang-orang memakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja, dan untuk kejahatan tertentu penjahat akan dimakan hidup-hidup".. "daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan kapur, garam dan sedikit nasi".

4. Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, berada di tanah Batak pada tahun 1840-1841. Dia mengatakan tentang ritual kanibalisme di antara orang Batak (yang ia sebut "Battaer"). Dia menceritakan bagaimana setelah penerbangan berbahaya dan lapar, ia tiba di sebuah desa yang ramah. Makanan yang ditawarkan adalah daging dari dua tahanan yang sudah disembelih sehari sebelumnya. Hal ini terkadang dibesar-besarkan bertujuan menakut-nakuti orang/pihak yang bermaksud menjajah dan/atau sesekali untuk mendapatkan pekerjaan yang dibayar banyak sebagai tukang pundak bagi pedagang ataupun sebagai tentara bayaran bagi suku-suku pesisir yang diganggu oleh bajak laut.

5. Oscar von Kessel juga mengunjungi Silindung pada tahun 1840-an, di tahun 1844 mungkin orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina dihukum dan dimakan hidup. Menariknya, ada deskripsi paralel dari Marsden dalam beberapa hal penting, von Kessel mengatakan bahwa kanibalisme dianggap masyarakat Batak sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran yang sangat kecil dan sempit yakni pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, cabe merah, dan lemon harus diberikan oleh keluarga korban untuk tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam.

6. Ida Pfeiffer bulan Agustus 1852, walaupun tidak mengamati kanibalisme apapun, dia diberitahu bahwa: "Tahanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara hati-hati diawetkan untuk minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam puding dengan nasi. Tubuh kemudian dibagikan; telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik eksklusif raja, selain klaim atas sebagian lainnya. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, serta hati, dibuat menjadi hidangan khas. Daging pada umumnya dipanggang serta dimakan dengan garam. Para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam publik besar ".

Ritual kanibalisme ini sudah mulai hilang pada tahun 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang perbuatan kanibalisme di wilayah kendali mereka. Rumor kanibalisme ini bertahan sampai awal abad ke-20, dan sudah jarang dilakukan sejak tahun 1816 karena pengaruh agama pendatang.

Tarombo

Silsilah atau Tarombo adalah suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya maka dianggap sebagai orang Batak kesasar (nalilu). Orang Batak diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Ini diperlukan untuk mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam sebuah klan atau marga.


No comments:

Post a Comment

Silahkan komentar dengan bijak sesuai pembahasan