Sunday, May 14, 2017

ASAL USUL SUKU MANTE ACEH







Asal usul Suku Mante - Menurut laman acehprov.go.id, berdasarkan asal usulnya, etnis Aceh sendiri salah satunya berasal dari Suku Mante, yaitu orang-orang Mante-Batak yang dinamakan kawom atau sukee lhee reutoh.

Sementara laman Indonesia.go.id, yang dikelola oleh Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Komunikasi dan Informatika, mengatakan Suku Mante diduga berkerabat dekat dengan Suku Batak, Gayo dan Alas.

Suku Mante mulanya bermukim wilayah Aceh Besar dan kemudian menyebar ke tempat-tempat lainnya.

Ada pula dugaan secara etnologi tentang hubungan suku Mante dengan bangsa Funisia di Babilonia atau Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, namun hal tersebut belum dapat ditetapkan oleh para ahli kepastiannya.

Suku Mante ini mempunyai ciri-ciri tubuh kerdil dengan ketinggian sekitar satu meter. Rambut terurai panjang hingga pantat. Sebagian dari mereka bertelanjang.

Mereka mempunyai kulit cerah, tubuh berotot dan kasar serta wajah bersegi dengan dahi sempit. Kedua alis mata mereka bersatu di pangkal hidung yang tampak pesek.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Suku Mante salah satu etnis paling awal yang menjadi pembentuk etnik-etnik di Aceh. Suku ini bersama suku lainnya, yakni Lanun, Sakai, Jakun, Senoi dan Semang, merupakan generasi suku-suku yang ada saat ini di Aceh.

Konon, nama Mante pertama kali diperkenalkan oleh Dr Snouck Hurgronje dalam bukunya, De Atjehers. Dr Snouck mengartikan Mante adalah istilah untuk tingkah kebodoh-bodohan dan kekanak-kanakan. Dr Snouck sendiri mengaku belum pernah bertemu dengan Suku Mante.

Dalam bukunya, Dr Snouck menyebut Mante adalah orang Mantran yang bermukim di perbukitan Mukim XXII. Pada abad XVIII, sepasang warga Suku Mante pernah ditangkap lalu dibawa ke Sultan Aceh. Mereka tidak mau sedikitpun berbicara dan makan ataupun minum, akhirnya keduanya meninggal.


Namun dalam kamus Gayo-Belanda karangan Prof Ibrahim Alfian, kata Mante dipakai untuk sekelompok masyarakat liar yang tinggal di hutan. Kamus lain, Gayo-Indonesia tulisan antropolog Nelalatua, Mante diartikan kelompok suku terasing.

Sampai saat ini, belum ada yang bisa mengonfirmasi kebenaran cerita terkait keberadaan Suku Mante di Aceh,Hingga saat ini keberadaan suku Mante masih menjadi pertanyaan dan misterius bagi kalangan sejarawan. Mereka mempunyai kulit cerah, tubuh berotot dan kasar serta wajah bersegi dengan dahi sempit. Kedua alis mata mereka bersatu di pangkal hidung yang tampak pesek.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Suku Mante salah satu etnis paling awal yang menjadi pembentuk etnik-etnik di Aceh. Suku ini bersama suku lainnya, yakni Lanun, Sakai, Jakun, Senoi dan Semang, merupakan generasi suku-suku yang ada saat ini di Aceh.

Konon, nama Mante pertama kali diperkenalkan oleh Dr Snouck Hurgronje dalam bukunya, De Atjehers. Dr Snouck mengartikan Mante adalah istilah untuk tingkah kebodoh-bodohan dan kekanak-kanakan. Dr Snouck sendiri mengaku belum pernah bertemu dengan Suku Mante.

Dalam bukunya, Dr Snouck menyebut Mante adalah orang Mantran yang bermukim di perbukitan Mukim XXII. Pada abad XVIII, sepasang warga Suku Mante pernah ditangkap lalu dibawa ke Sultan Aceh. Mereka tidak mau sedikitpun berbicara dan makan ataupun minum, akhirnya keduanya meninggal.

Namun dalam kamus Gayo-Belanda karangan Prof Ibrahim Alfian, kata Mante dipakai untuk sekelompok masyarakat liar yang tinggal di hutan. Kamus lain, Gayo-Indonesia tulisan antropolog Nelalatua, Mante diartikan kelompok suku terasing.

Sampai saat ini, belum ada yang bisa mengonfirmasi kebenaran cerita terkait keberadaan Suku Mante di Aceh,Hingga saat ini keberadaan suku Mante masih menjadi pertanyaan dan misterius bagi kalangan sejarawan.

No comments:

Post a Comment

Silahkan komentar dengan bijak sesuai pembahasan